Kembali ke Khittah: Memutihkan Hati, Mengakhiri Dendam Sesama Saudara

Sutrisno Budi
Sutrisno Budi

Madiun  – Sebuah tulisan reflektif mendalam mengenai dinamika internal organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) belakangan ini menjadi sorotan hangat. Esai berjudul “Mana Bisa Membersihkan dengan Kain yang Kotor?” yang ditulis oleh Sutrisno Budi pada 18 Mei 2026, menyuarakan jeritan hati akar rumput yang merindukan kedamaian dan keutuhan persaudaraan sejati.

Sutrisno Budi menegaskan bahwa dalam situasi konflik internal yang berlarut-larut, esensi mencari siapa yang salah dan siapa yang benar sudah tidak lagi relevan. Menurutnya, cara-cara lama yang mengedepankan dominasi, merendahkan kelompok lain, atau memaksa saudara sewarga untuk tunduk harus segera diakhiri.

Jeritan Hati Akar Rumput: Kami Sudah Lelah Berkonflik Dalam naskah refleksinya, penulis menangkap kegelisahan mendalam dari para kader di tingkat ranting, rayon, hingga komisariat yang merasa lelah dengan gesekan politik organisasi.

Kebahagiaan warga PSHT sebenarnya sangat sederhana: ingin berlatih pencak silat dengan tenang dan menjalin persaudaraan tanpa rasa curiga. “Keras sedikit masuk penjara, lunak sedikit dituduh pengkhianat,” tulis Sutrisno, menggambarkan posisi dilematis yang dihadapi para anggota di bawah akibat ego elitis yang terlalu sibuk mempertahankan kehendak masing-masing.Mengetuk Pintu Hati Elit .

Organisasi Refleksi ini juga membawa pesan kritik sekaligus harapan besar (khayalan positif) terhadap restrukturisasi kepemimpinan PSHT di masa depan: Dewan Pusat Masa Depan: Berharap diisi oleh para sesepuh yang sudah selesai dengan urusan dunianya, tidak haus pengaruh, tidak mementingkan golongan, dan murni memikirkan marwah persaudaraan.

Karakter Ketua Umum: Merindukan sosok pemimpin yang memperlakukan semua warga sebagai saudara kandung, bukan sebagai pesaing politik atau musuh yang harus ditumbangkan.

Kembali ke Khittah: Memutihkan Hati, Menahan EgoSutrisno mengingatkan kembali jati diri PSHT yang didirikan bukan sekadar untuk mencetak manusia yang jago bertarung secara fisik, melainkan melahirkan manusia yang berbudi pekerti luhur, tahu salah dan benar, serta bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.” Ilmu silat tanpa keluhuran budi hanyalah kekuatan kosong. Dalam Persaudaraan, mengalah bukan berarti kalah.

Kadang justru yang paling kuat adalah yang mampu menahan dirinya untuk tidak membenci saudaranya,” tuturnya.

Langkah Nyata Dimulai dari Diri Sendiri Di akhir tulisan, esai ini mengajak seluruh warga PSHT untuk tidak menunggu perubahan dari atas, melainkan memulainya dari diri sendiri melalui tiga langkah nyata: Stop menghina sesama saudara sewarga. Berhenti menyebarkan narasi kebencian di media sosial maupun nyata.

Menghapus stigma bahwa yang berbeda kelompok adalah musuh.

Pesan penutup dari refleksi ini menjadi tamparan keras sekaligus pengingat suci bagi siapa saja yang merasa ingin memperbaiki organisasi namun menggunakan cara-cara yang merusak: “Jika benar niat kita ingin membersihkan, mana bisa membersihkan dengan kain yang kotor?”

Iklan Promo
Iklan Promo

Iklan Harian Radar!

Dapatkan penawaran menarik hanya untuk Anda. Jangan lewatkan kesempatan ini!

Hubungi Agen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *