Surabaya – MFASBII (Majelis Fahmil Al-Qur’an Seni Budaya Islam Indonesia) Surabaya menggelar Peringatan Asyuro Ke-20, Kemuliaan hari anak yatim-piatu pada tanggal 10 Muharram 1445 H, disertai Doa Bersama dan Pemberian Santunan untuk anak yatim piatu, di Jalan Peneleh Surabaya, Sabtu (29/07/2023) pukul 18.00 wib.
Peringatan ini bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi umat Muslim untuk mengenang dan merayakan keberadaan anak-anak yatim. Bukan hanya tentang menyenangkan mereka dengan hadiah atau hiburan semata, melainkan untuk menginspirasi kasih sayang, kepedulian, dan perhatian pada mereka yang kurang beruntung ini.
Acara tersebut di awali hadrah dari santri Nurul Ahmad Faqih dan dihadiri oleh para Ulama, Kyai, Camat Genteng, Lurah Peneleh, Polsek Genteng, Ketua RT/RW beserta staf, Tokoh Agama (Toga), Tokoh Masyarakat (Tomas) dan sesepuh bersama warga Peneleh.
Dalam sambutannya, Aris Hilmi selaku Camat Genteng dimana bulan muharam ini banyak keutamaannya dan penuh berkah.
“Alhamdulillah, MFASBII dibawah kepemimpinan Ustad Sihabulmilah selalu amanah, setiap tahunnya memperingati Kemulian Hari Yatim 10 Muharram 1445 H, Asyoro Ke-20 dengan Doa bersama dan santuni 200 anak yatim-piatu,” kata Aris.

Secara terpisah, Menurut Ustad Sihabulmillah selaku pendiri MFASBII, meskipun mereka tidak lagi mempunyai sosok ayah, namun harus tetap bisa merasakan kasih sayang yang sempurna dari orang-orang sekitarnya.
“Selain itu, peringatan tersebut juga membuka peluang umat Muslim untuk memperoleh pahala yang lebih banyak lagi dengan memberikan perhatian dan santunan kepada anak-anak yatim-piatu,” tutur Ustad Sihabulmillah panggilan akrabnya Ustad Midun, kepada awakmedia Harianradar.
Ia menyampaikan peringatan hari untuk anak yatim ini ditulis dalam sebuah kitab berjudul Tanhibul Ghafilin yang dibuat oleh Abu Laits As Samarqandi. Dalam kitab ini dijelaskan bahwa tanggal 10 Muharram atau Hari Asyura merupakan hari raya bagi anak yatim.
“Pada hari tersebut banyak orang yang memberikan santunan dan perhatian khusus untuk anak yatim yang sudah tidak mempunyai orang tua. Kemudian, pada masa lalu banyak sekali kejadian besar yang terjadi pada tanggal 10 Muharram karena kuasa Allah SWT,” ucapnya.
Peristiwa tersebut salah satunya terjadi di Karbala yang menyampaikan pesan mengenai pentingnya berdiri teguh dalam kebenaran, bahkan jika menghadapi kezaliman dan kesulitan yang besar. Makna dari peristiwa ini menggarisbawahi pentingnya perhatian dan kasih sayang pada anak-anak yatim.
“Kehilangan orang tua atau penjaga adalah pengalaman yang menghancurkan bagi anak-anak, dan sebagai masyarakat, kita memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan dukungan dan perhatian pada mereka,” terangnya.
Ustad Midun berkata, Sejak saat itu, tanggal 10 Muharram, umat Muslim di seluruh dunia merenungkan peristiwa tragis di Karbala dan memberikan perhatian khusus pada anak-anak yatim.
“Oleh karena itu, MFASBII selalu menyediakan bantuan finansial, dan memberikan hadiah bagi anak-anak yatim untuk menghormati momen bersejarah tersebut,” jelasnya.
Diketahui, MFASBII setiap tahunnya, Mengenang Peristiwa Besar Para Ambiya’ Yang Diutus Pada 10 Muharram Dan Doa Bersama Yatim Untuk Keselamatan Keluarga, Masyarakat Bangsa Dan Negara.
“Kegiatan tersebut supaya bisa memotivasi generasi bangsa agar tahu akan makna 10 Muharram supaya masyarakat bisa makmur, rukun sentosa. Sedangkan, santunan yang kami berikan ini untuk memberikan perhatian dan sekaligus membantu anak-anak Yatim-piatu,” imbuhnya.
Dalam kesempatan ini Ustadz Midun mengajak semua yang hadir untuk mendoakan para Auliya’ yang telah lebih dulu meninggalkan kita semua.
“Semoga para Auliya mendapatkan tempat yang mulia di sisi Alloh SWT, dan kita semua khususnya bangsa Indonesia selalu diberikan ketentraman dan kedamaian, tak lupa semua yang hadir di acara hari Asyuro yang diperingati pada tanggal 10 Muharram 1445 H, semoga selalu diberikan kesehatan dan kekuatan lahir batin, serta umur panjang yang barokah,” pintanya.
Sementara, Hendrik selaku Ketua panitia menuturkan bahwa Peneleh merupakan kota sejarah dan religi.
“Kita harus bangga menjadi warga Peneleh, mari kita jaga dan lestarikan apa yang sudah diberikan kepada warga peneleh oleh Pemerintah Kota Surabaya sebagai kota dengan julukan sejarah dan religius,” tuturnya.
Reporter: Edi





