Surabaya – DEMA FEBI (Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam) UIN Sunan Ampel Surabaya kembali melangsungkan seminar nasional.
Dalam kesempatan ini, mereka menghadirkan tiga orang narasumber, ketiganya ialah Dr. Basa Alim Tualeka,M.Si, Muhammad Rifqi Pramantyo CSP,CSFP,CNNLP,C.Ht., serta Noer Yasin Hambami. Mengambil tempat di gedung auditorium UIN Sunan Ampel, acara ini berjalan sesuai dengan rencana. Rangkaian acara seminar ini juga dimaksudkan sebagai injeksi dari kegiatan belajar mengajar yang selama ini diadakan di kampus.
Perlu diketahui bahwa seminar nasional bertema “Akselerasi pemulihan Ekonomi Melalui Kreativitas Wirausaha Generasi Millenial” diselenggarakan pada Rabu, 21 September 2022. Dibuka melalui uraian dari Dr. Basa Alim Tualeka,M.Si, seorang Dewan Pakar Kadin Indonesia, sekaligus penulis buku Ibu, Pemimpin Para Pemimpin.
Menurut Bapak Basa Alim Tualeka saat beliau menjawab pertanyaan salah satu audiens dalam suatu sesi tanya jawab “Inti yang terpenting ialah mental”. Sebab, bagi beliau dengan memiliki mental yang kuat kita dapat menghadapi persoalan/ permasalahan yang mungkin akan mengancam bisnis kita.
“Seperti nyawa misal di rumah sakit, kan nyawa itu selalu bergelombang naik-turun gitu kan. Dalam melatih mental pun demikian. Bagaimana kita harus siap mental disaat kita sedang naik dan juga bagaimana kita harus siap mental disaat kita turun. Oleh karenanya, mental harus dipersiapkan matang-matang”, imbuhnya.
Untuk diketahui, seminar dihadiri kurang lebih 600 mahasiswa. Saat ditemui dalam sesi wawancara dengan tim Al-Fikrah, Rizqon Abdillah, ketua pelaksana seminar nasional ini menuturkan ia cukup puas dengan atensi para audiens yang hadir serta sangat mengapresiasinya. Pun lebih-lebih kepada panitia yang sudah berkontribusi atas terselenggaranya acara ini. Dengan demikian, ia berharap ilmu dari seminar yang diadakan oleh DEMA FEBI UIN Sunan Ampel Surabaya dapat memberikan kemanfaatan bagi semuanya, terutama masyarakat luas akan turut merasakan buah dari agenda ini.
Sementara itu, kegiatan semacam seminar diselenggarakan, juga tak lepas lantaran kampus merupakan instrumen mewujudkan sumber daya manusia Indonesia yang unggul. Ketika sebagian besar masyarakat belum menyadari urgensi berwirausaha, sudah tentu kedaulatan perekonomian akan sulit dicapai.
Selayaknya negara maju dalam hal perekonomian, bangsa Indonesia mesti mengubah pola pikirnya, maksudnya ialah tidak semata-mata bergantung terhadap produk-produk negara lain. Namun, tidak juga lantas serta merta menolak segala yang berpangkal dari luar apalagi bersinggungan dengan dunia barat. Tidak pula perihal semuanya harus berkiblat ke dunia barat sebagai representasi kemajuan berpikir umat manusia saat ini.
Sebaliknya apa yang sudah dunia barat serta negara maju lainnya capai bisa menjadi acuan bagi kita semua dalam mengembangkan bidang ekonomi tanpa kehilangan identitas asli sebagai bangsa Indonesia. Seandainya ini terjadi, maka Indonesia akan seperti Jepang yang maju dalam teknologi, industrialisasi serta perekonomiannya dengan masih melestarikan pendidikan moral. Bagaimanapun di seluruh sektor kehidupan, apalagi perekonomian pasti pendidikan moral akan membentuk enterprenuer yang ceras otak serta hati nuraninya.
Kemudian pada kesempatan lain, seorang narasumber yang memiliki latar belakang konselor pemberdayaan, pengembangan, manajemen SDM dan IKM-UKM RI dan juga aktif dalam Himpunan Pengusaha Nahdliyin Jawa Timur, Muhammad Rifqi Pramantyo atau yang akrab disapa Kak Qii menyebutkan bahwa andaikan ada orangtuanya pejabat tetapi sang anak bukanlah seorang pejabat juga ada atau juga orang yang boleh dikatakan miskin lalu menjadi seorang pejabat, pun ada pula yang semacam itu. Latas timbul sebuah pertanyaan ‘Kok bisa demikian?’. Hal tersebut merupakan respon beliau karena sebelumnya mendapat pertanyaan seorang audiens yang menanyakan “kalaupun dalam bisnis harus mulai dari nol, apakah orang yang memiliki previllage dapat pula diklasifikasikan memulai bisnis dari nol?”
Oleh karenanya, di sini beliau hendak mengakatakan bahwa kendati anaknya mempunyai orangtua pejabat dan anaknya juga bisa menjadi pejabat, itu lebih dikarenakan bagaimana si anak tadi terus berusaha memanfaatkan segala yang ada.
Previllage sangat mungkin didapat lewat mana saja, contohnya dari organisasi akan mendapatkan relasi bahkan bisa memperoleh modal dan lain sebagainya. Namun, balik lagi ke individu masing-masing bagaimana mengoptimalkan segala media yang ada.
Dengan demikian, beliau menyarankan agar saat menjadi mahasiswa harus pula berorganisasi, mencari relasi yang sebanyak-banyaknya supaya suatu saat bisa berkolaborasi melakukan sesuatu kebaikan.
Reporter : Edy
Sumber : IMAM





