Iklan Promo
Iklan Promo

Iklan Harian Radar!

Dapatkan penawaran menarik hanya untuk Anda. Jangan lewatkan kesempatan ini!

Hubungi Agen

DPD RI Lia Istifhama Ungkap Cara Aman Saat Terpisah dengan Rombongan

Makkah – Mina bukan sekadar hamparan tenda putih. Pada puncak ibadah haji 2026, ia berubah menjadi lautan manusia—jutaan langkah berdenyut dalam ritme yang sama, berdesakan menuju satu tujuan: lempar jumrah.

Di tengah gelombang itu, banyak umat melangkah sendirian. Tanpa iring-iringan rombongan. Tanpa kendaraan. Hanya langkah kaki, tekad, dan doa yang menyertai.
Situasi saat itu tidak ideal. Kepadatan ekstrem di Mina membuat mobilitas tersendat. Bus shalawat sulit diakses, jalur penuh, dan waktu terus berjalan. Namun menurut Anggota DPD RI Lia Istifhama, ada satu hal yang tidak boleh tertunda: janji.

Bagi jemaah harus sampai di Jamarat. Bukan hanya untuk menunaikan lempar jumrah, tetapi juga memenuhi komitmen bertemu konstituennya—sebuah amanah yang ia pegang teguh, bahkan di tengah kondisi paling sulit sekalipun.

Langkahnya cepat. Menyusuri jalur pejalan kaki yang padat, berbaur dengan jemaah dari berbagai negara. Suara talbiyah bersahutan, keringat bercucuran, dan suhu panas tak memberi ampun. Lebih dari tiga puluh menit ia berjalan, menembus arus manusia yang tak pernah benar-benar berhenti.

Namun di balik semua itu, ada ketenangan yang ia rasakan. “Di tengah padatnya Mina, kita justru belajar tentang keteguhan. Ini bukan sekadar perjalanan fisik, tapi perjalanan menjaga amanah,” ujar Ning Lia dengan penuh haru.

Fenomena jemaah berjalan kaki di Mina memang menjadi salah satu dinamika haji 2026. Kepadatan yang meningkat, distribusi transportasi yang terbatas, hingga perubahan pola pergerakan jemaah membuat banyak orang harus beradaptasi—termasuk berjalan kaki dalam jarak cukup jauh.

Namun pengalaman Ning Lia menunjukkan sisi lain: bahwa di tengah kompleksitas itu, sistem pengawasan dan pelayanan tetap hadir.

Di sepanjang jalur, petugas haji Indonesia tampak siaga. Jaket cokelat khas mereka mudah dikenali di antara lautan manusia. Mereka berdiri di titik-titik strategis emberi arah, membantu jemaah yang kelelahan, hingga memastikan tak ada yang benar-benar sendirian.

“Rasa aman itu nyata. Kita mungkin berjalan sendiri, tapi tidak pernah benar-benar sendiri,” katanya.

Pengalaman tersebut ia sebut sebagai potret kolaborasi besar dalam penyelenggaraan haji mulai dari Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj), PPIH Arab Saudi, hingga petugas lintas sektor yang bekerja tanpa henti.
Dari perjalanan itu pula, Ning Lia membagikan pelajaran penting bagi jemaah lain.

Pertama, komunikasi adalah kunci keselamatan. Di tengah padatnya Mina, ia memastikan selalu terhubung dengan keluarga dan rombongan, termasuk berbagi lokasi secara real-time.

“Kita harus memastikan ada yang tahu posisi kita. Teknologi itu penting, tapi kesadaran untuk menggunakannya jauh lebih penting,” ujarnya.

Kedua, jangan ragu meminta bantuan. Petugas haji, menurutnya, adalah garda terdepan yang selalu siap membantu kapan pun dibutuhkan.

Dan ketiga, yang paling penting yakni tetap tenang. “Panik hanya akan memperburuk keadaan. Di Tanah Suci, kita diajarkan untuk percaya bahwa setiap langkah dijaga,” tuturnya.

Kisah ini bukan sekadar tentang perjalanan seorang pejabat negara. Ini adalah potret kemanusiaan di tengah ibadah terbesar umat Islam. Tentang bagaimana janji tetap dijaga, meski harus ditempuh dengan langkah yang tidak mudah.

Ia berjalan menembus batas antara lelah dan tekad, antara keramaian dan kesunyian batin, antara manusia dan Tuhan. “Di sinilah kita belajar, bahwa ibadah bukan hanya soal ritual. Tapi tentang keberanian, keikhlasan, dan kepedulian pada sesama,” pungkasnya.

Iklan Promo
Iklan Promo

Iklan Harian Radar!

Dapatkan penawaran menarik hanya untuk Anda. Jangan lewatkan kesempatan ini!

Hubungi Agen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *