SURABAYA – Malam baru saja melewati pukul sembilan ketika langit di atas Kecamatan Genteng tak lagi mampu membendung beban. Hujan deras mengguyur kawasan Tengah Kota, Kampung Lawas Jl. Ketandan, Surabaya, Senin (26/10/2026) malam, membasahi setiap jengkal paving dan menyisakan genangan yang memantulkan cahaya lampu merkuri. Suasana yang semula gerah khas kota pahlawan langsung berubah drastis menjadi dingin yang menusuk.
Di salah satu sudut gang pemukiman padat RW 04, air hujan tampak turun merata bak tirai vertikal dari langit. Beberapa jemuran warga yang masih menggantung di balkon lantai dua rumah semi-permanen terpaksa pasrah basah kuyup tersiram air. Di bawahnya, deretan sepeda motor terparkir rapi di depan rumah bergaya lawas, perlahan-lahan mulai basah tertutup rintik air yang kian menderu.
Bagi sebagian warga Kampung Lawas, datangnya hujan di akhir Oktober ini membawa berkah tersendiri untuk mendinginkan suhu kota setelah berbulan-bulan didera cuaca terik.
Namun, di balik kesejukan itu, ada kewaspadaan yang mulai tumbuh. Warga di gang-gang sempit pusat kota seperti Genteng kini harus bersiap menghadapi musim penghujan, memastikan saluran air tak tersumbat agar aliran malam yang deras ini tidak sampai bertamu ke dalam ruang tamu mereka.
Mochamad (49), salah seorang warga setempat yang ditemui saat berteduh di teras rumahnya, menatap nanar ke arah jalanan yang mulai digenangi air.
“Kalau dinginnya sih enak, Mas, bikin tidur nyenyak. Tapi kalau sudah deras begini lebih dari satu jam, batin kami mulai enggak tenang. Takutnya saluran air di depan tidak menampung, lalu airnya meluap masuk ke dalam rumah,” ujar Mochamad sambil membenahi posisi sepeda motornya agar tidak terlalu basah.
Dampak hujan malam ini paling dirasakan oleh para pelaku usaha kecil di sekitar kawasan Genteng. Kawasan yang biasanya hidup dengan aktivitas warung kopi dan kuliner malam, mendadak sepi senyap.
“Hingga menjelang tengah malam, deru hujan di Kampung Lawas masih belum menunjukkan tanda-tanda akan reda,” tambahnya.


















