FGD Gelar Kajian Ngemis Tradisi Lisan Madura 

Foto : FGD Gelar Kajian Gemis Tradisi Lisan Madura 
Foto : FGD Gelar Kajian Gemis Tradisi Lisan Madura

 

Bangkalan – Focus Grup Discussion (FGD) melakukan kajian objek pemajuan kebudayaan NGEMIS atau Tradisi Lisan Madura yang di laksanakan pada hari Minggu (06/07/2025) bertempat di Dhin Ajuh Barung Suramadu, Jl. Raya Suramadu, Nyantren Masaran, Kecamatan Tragah, Kabupaten Bangkalan Madura.

 

Turut hadir dalam acara tersebut, Lukman Hakim (Pemred Jawa Pos Radar Madura), Ahmad Faishal (Dosen STRW Surabaya), Muhlis (Penulis Tradisi Lisan Madura), Hidrochin Sabarudin (Budayawan Madura).

 

Ngemis, merupakan aktivitas khas tradisi lisan di daerah pesisir selatan Madura (khususnya kecamatan Kwanyar dan sekitar). Saat ini terlacak di 6 desa, namun hampir punah. Pelaku yang hafal dan menguasai syiir kuno dan masih hidup tinggal beberapa orang.

 

Menurut Muhlis, Tradisi lisan Ngemis berbahasa Madura. Dilaksanakan di kampung-kampung oleh kelompok santri (pesantren), santri kampung (langgar), masyarakat, yang perorangan (sudah punah). Aktivitas ini dilakukan pada hari Rabu malam Kamis. Sehingga masyarakat menamainya Ngemis.

 

“Islamisasi Madura, bagaimanapun juga merupakan faktor penting bagi lahirnya karya ini. Syiir Ngemis, baik sebagai tradisi lisan saat dilanggamkan (performance), merupakan wujud dari ekspresi Islam Madura yang mewarnai kultural masyarakat Bangkalan (khusunya wilayah Kwanyar),” kata Muhlis.

 

Dalam berbagai kronik lokal dikisahkan tentang kedatangan seorang Syekh Zainal Abidin (Sunan Cendana) pada masa kekuasaan Mataram Islam. Sunan Cendana dianggap sebagai pemula penyebar agama Islam di pesisir selatan Bangkalan. Sunan Cendana adalah putra Nyai Gede Kedaton Binti Panembahan Kulon Bin Raden Paku (Sunan Giri) salah seorang dari sembilan wali (Wali Songo) yang dipercaya sebagai penyebar utama Islam di Tanah Jawa.

 

Muhlis menambahkan, Dalam proses penurunan, kaderisasi, dan pengembangan tradisi lisan, tantangan besar yang harus dihadapi ialah ketertarikan generasi muda untuk mempelajari syiir kuno.

 

“Syiir kuno, hanya dihafal oleh kaum tua dengan karakteristik dan pakem yang kuat, dan prosedur yang kompleks dalam mempelajari dan menguasainya sehingga diperlukan upaya untuk memberikan pemahaman yang mendalam kepada generasi penerus tradisi lisan,” imbuhnya.

 

Diterangkan tradisi ini melibatkan aktivitas berbicara atau bercerita yang dilakukan secara turun temurun dari mulut ke mulut. Meskipun kaya akan nilai-nilai budaya, tradisi lisan ini juga menghadapi potensi kepunahan. Ia berharap oleh karena itu, penting untuk melakukan pelestarian dan penelitian lebih lanjut agar tradisi ini tetap lestari.

 

“Mari kita jaga tradisi lisan seperti ngemis memiliki nilai-nilai pendidikan yang bisa dimanfaatkan baik untuk pembelajaran sejarah, bahasa, maupun nilai-nilai kehidupan lainnya,” ungkapnya.

Iklan Promo
Iklan Promo

Iklan Harian Radar!

Dapatkan penawaran menarik hanya untuk Anda. Jangan lewatkan kesempatan ini!

Hubungi Agen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *