Kalau Sudah Tiada Baru Terasa, Kepada Ayahanda Selamat Jalan Semoga Khusnul Khotimah

  • Bagikan

 

 

Harianradar.com – Ayah, Sengaja ku tulis sebagian kenangan terindah bersamamu hingga Alloh menetapkan batas akhir aku bisa bicara denganmu secara langsung. Bukan sebuah kebetulan tentunya bahwa batas itu Alloh takdirkan, Sabtu 17 Juli 2021, sekira pukul 10.00 wib, sebuah hari yang Insya Alloh akan aku ingat kalau Ayah telah meninggalkan dunia untuk selamanya.

Ayah,

Masih sangat segar dalam ingatanku ketika itu sebelum meninggalkan rumah untuk mencari karunia Alloh engkau berpesan dengan penuh keyakinan :” Ini buminya Alloh, nak. Disanapun walaupun jauh dan ayah tidak bisa melihatmu setiap hari juga buminya Alloh. Pemiliknya satu, mintalah kepada pemiliknya terhadap berbagi hal. Jangan lupa istiqomahlah dengan salah satu amalan Rasulullah yaitu puasa sunah Senin-Kamis. Insya Alloh kamu akan selalu diberi Allah jalan keluar dari berbagai kesulitan.”

Jujur, kalimat tersebut menghujam kuat disanubariku, menguatkan mental dan jiwaku. Ada sandaran kuat yang ayah tanamkan kepadaku yaitu Alloh dan Rasulnya. Semampuku aku berusaha untuk bisa istiqomah dengan nasehatmu, walaupun mungkin masih jauh dari harapanmu.

Setelah hari itu, mulailah aku belajar mengarungi kehidupan yang cukup keras ini dengan segala liku-likunya tanpa bimbingan langsung dari ayah. Sedang aku sendiri sudah tidak banyak tahu aktifitas keseharian ayah. Cuman sering kali aku merasa rindu dengan nasehat ayah yang selalu menyejukkan hatiku.

Ayah,

Kalaulah Allah menghendaki sakitmu kemarin tentunya bukan tanpa maksud. Sungguh selama ini memang Alloh rasanya tidak pernah memberimu sakit yang cukup berat. Paling banter pusing atau capek dan alhamdulillah paginya sudah sembuh.

Satu hal yang membuatku malu ketika ayah merasa merepotkan anak-anaknya ketika harus masuk rumah sakit sebagai ikhtiar. Betapa hanya dengan beberapa hari saja di rumah ayah sudah merasa merepotkan.

Baca Juga  Launching Aplikasi INDAGO, Disperindag Sidoarjo Permudah Akses Informasi dan Realisasi Pasar

Kami sebagai anak-anaknya, justru yang selalu merepotkanmu dari bayi sampai kemarin itu. Nggak sanggup aku menghitung jasamu, ayah…. .

Ayah,

Kalau saat ini aku sudah tidak mungkin lagi menemani dan menungguimu, sungguh kami anak-anakmu sudah menyerahkan engkau kepada Yang Maha Rahman dan Rahim, yang pengasihnya tidak tertandingi oleh kasihnya mahkluk, termasuk sayangnya kami kepadamu. Tetap saja lebih banyak dan tak terhingga Rahimnya Alloh kepada makhluknya. Kami berkhusnudhon kepada-Nya atas kemurahan-Nya terhadap ayah.

Aku hanya bisa senantiasa berdo’a untuk memohonkan ampunan kepada yang Maha Pengampun dan memohonkan kebaikanmu di alam kubur dan di alam akherat kelak.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ اْلأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ النَّارِ

Opini (Mooch)

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *