SURABAYA – “Teriak warga, viral maneh (lagi) nanti!” Kalimat sarat kekesalan itu mulai berdengung di kawasan Jl. Dukuh Kapasan, Sambikerep. Kepadatan arus lalu lintas setiap jam antar-jemput siswa SMPN 20 Surabaya kini berada di titik jenuh. Akses utama kampung yang seharusnya menjadi urat nadi mobilitas warga, mendadak berubah menjadi lautan kendaraan yang terkunci rapat setiap harinya, Senin (21/09/2026) pukul 14.40 wib.
Kondisi ini dipertegas oleh langkah antisipatif dari pihak Pengurus Masjid At-Taqwa setempat. Sebuah papan pengumuman resmi dipasang di area depan, menuliskan larangan tegas bagi para pengantar maupun penjemput siswa untuk masuk atau memarkirkan kendaraan di area masjid. Langkah ini diambil demi menjaga ketertiban tempat ibadah yang kerap ikut terkena imbas dari ruwetnya arus kendaraan.
Suara Warga: “Kami Mau Keluar Rumah Saja Susah!”
Salah seorang warga lokal yang tidak mau disebut namanya tinggal tepat di pinggir jalur utama, menumpahkan kekesalannya. Menurutnya, puncak kemacetan terjadi dua kali sehari dan benar-benar mengunci aktivitas warga kampung.
“Setiap jam masuk dan pulang sekolah, jalan ini langsung macet total. Kami yang mau berangkat kerja atau ada keperluan darurat keluar kampung jadi tertahan berjam-jam. Belum lagi klakson yang saling bersahutan, bising sekali. Kalau tidak ada tindakan tegas atau penataan dari pihak sekolah, jangan salahkan kalau warga nanti kompak protes dan memviralkannya ke media sosial. Kami hanya ingin hak akses jalan kami tidak hilang,” keluhnya dengan nada jengkel.
Dilema Wali Murid: “Kami Juga Bingung Mau Parkir di Mana”
Di sisi lain, kebijakan sterilisasi lahan Masjid At-Taqwa membuat para orang tua siswa berada di posisi dilematis. Ibu Ratna (38), salah satu wali murid yang setiap hari menjemput anaknya menggunakan sepeda motor, mengaku bingung dengan minimnya fasilitas ruang tunggu yang disediakan.
“Kami sebenarnya paham dan menghormati keputusan pengurus masjid yang melarang kami masuk area ibadah. Tapi masalahnya, sekolah tidak menyediakan kantong parkir atau tempat tunggu yang memadai untuk penjemput. Akhirnya ya semua menumpuk di badan jalan sempit ini. Kami terpaksa berhenti di pinggir jalan karena tidak ada pilihan lain. Kami juga inginnya tertib, tapi tolong beri kami solusi atau tempat alternatif untuk menunggu anak-anak,” ungkap walimurid.
Butuh Solusi Konkret, Bukan Saling Menyalahkan.
Pihak takmir masjid menyatakan bahwa area suci tersebut harus tetap kondusif dan steril dari hilir mudik non-ibadah pada jam-jam rawan. Namun, dengan bertemunya dua kepentingan ini kenyamanan warga vs kebutuhan wali murid situasi di Jl. Dukuh Kapasan kini ibarat bom waktu.
Warga dan orang tua siswa sama-sama berharap adanya tindakan nyata dari pihak manajemen SMPN 20 Surabaya serta Dinas terkait. Rekayasa lalu lintas, penyediaan lahan penjemputan khusus (drop-zone), atau pengaturan jam kepulangan yang bertahap dinilai menjadi jalan keluar agar ketertiban lingkungan kampung dan keselamatan siswa dapat berjalan beriringan tanpa ada pihak yang dirugikan.
Hingga berita ini dipublikasikan, redaksi tetap membuka ruang seluas-luasnya bagi pihak sekolah dan rukun warga untuk memberikan klarifikasi demi asas keberimbangan informasi.


















