banner 728x250

Napas Pedagang Tersengal: Jeritan Senyap di Balik Revitalisasi Pasar Dukuh Kupang

Pemandangan Pembangunan Pasar Dukuh Kupang yang berlokasi di Jalan Dukuh Kupang Timur, Kecamatan Dukuhpakis, Kota Surabaya
Pemandangan Pembangunan Pasar Dukuh Kupang yang berlokasi di Jalan Dukuh Kupang Timur, Kecamatan Dukuhpakis, Kota Surabaya
banner 120x600

SURABAYA — Pemandangan Pembangunan Pasar Dukuh Kupang yang berlokasi di Jalan Dukuh Kupang Timur, Kecamatan Dukuhpakis, Kota Surabaya, belakangan ini jauh dari kata nyaman. Lembaran besi cor yang saling mengait berserakan di tanah, mesin pemotong baja yang tergeletak membisu, serta kerangka hijau atap bangunan baru yang belum juga rampung menaungi deretan lapak semi-permanen yang kumuh.

Di tengah sengatan matahari, alih-alih riuh oleh transaksi jual-beli, atmosfer di area proyek Pemkot Surabaya ini justru terasa mencekam oleh ketidakpastian.

banner 325x300

Bagi sebagian besar pedagang, proyek peremajaan pasar tradisional ini tidak ubahnya seperti buah simalakama. Di satu sisi menjanjikan fasilitas modern, namun di sisi lain, proses pengerjaan yang memakan waktu lama lambat laun mencekik nadi perekonomian mereka.

“Setiap hari kami harus ‘makan debu’ di sini. Pembeli yang datang terus berkurang karena mereka enggan masuk ke area yang berantakan dan berbahaya begini,” keluh seorang pedagang yang wanti-wanti meminta namanya tidak ditulis karena takut mendapatkan sanksi atau dipersulit dalam pembagian stan baru nantinya.

Ia menunjuk ke arah tumpukan material konstruksi yang memblokir akses pandang ke tokonya. Menurut penuturannya, omzet hariannya merosot tajam hingga lebih dari 60 persen sejak pengerjaan fisik mulai intensif. Kejelasan relokasi sementara dirasa minim sosialisasi, membuat para pedagang kecil berjuang sendirian mempertahankan sisa-sisa modal di tengah impitan ekonomi.

Keluhan serupa datang dari sisi konsumen. Seorang ibu rumah tangga yang melintas sembari menggendong belanjaan tipis mengungkapkan rasa frustrasinya terhadap kondisi pasar saat ini.

“Dulu ke sini ya karena dekat dan lengkap. Sekarang? Berdebu kalau panas, dan jalannya penuh besi. Kalau terus-terusan begini, orang-orang lebih memilih belanja ke tempat lain yang lebih bersih,” ketusnya, yang juga menolak namanya dicantumkan.

Narasi besar tentang modernisasi pasar rakyat yang digelorakan pemerintah sering kali melupakan satu hal fundamental: napas dapur para pedagang tidak bisa berhenti berputar menunggu proyek selesai. Revitalisasi yang sejatinya bertujuan menyejahterakan, kini justru berubah menjadi ujian kesabaran yang menguras air mata bagi mereka yang menggantungkan hidup di atas tanah Dukuh Kupang.

Di bawah bayang-bayang rangka baja yang belum berdinding itu, para pedagang dan pengunjung hanya bisa berharap agar proyek ini segera tuntas, tanpa harus menumbangkan satu per satu pelaku usaha kecil yang terhimpit di dalamnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *