Menunggu Titi Wanci, Padepokan SRM Siap Buka-bukaan Inti Ajaran Kasampurnan Budi Luhur di Kongres Kebudayaan Nusantara 2026

KAWRUH LELUHUR: Pembina Padepokan Sambung Roso Mojopahit (SRM) Ki Suryo Alam saat memaparkan persiapan jelang Kongres Kebudayaan Nusantara 2026 yang akan digelar di Malang. (Foto: Istimewa)
KAWRUH LELUHUR: Pembina Padepokan Sambung Roso Mojopahit (SRM) Ki Suryo Alam saat memaparkan persiapan jelang Kongres Kebudayaan Nusantara 2026 yang akan digelar di Malang. (Foto: Istimewa)

MOJOKERTO – Setelah sembilan tahun berdiri, Padepokan Sambung Roso Mojopahit (SRM) siap membuat gebrakan besar. Lembaga pelestari adat yang berpusat di Dusun Nglinguk, Desa Trowulan, Kabupaten Mojokerto ini bakal menguak esensi terdalam ajaran spiritual mereka yang selama ini sengaja disimpan rapat dari publik.

Momentum pembuktian tersebut akan dideklarasikan secara resmi dalam gelaran akbar Kongres Kebudayaan Nusantara bertajuk “Menguatkan Jati Diri Bangsa, Merawat Peradaban” yang dijadwalkan berlangsung di Malang pada tahun 2026 ini. Lewat kongres tersebut, generasi milenial SRM siap menyatakan diri sebagai pelopor muda yang bangga mengadopsi dan menjunjung tinggi ajaran leluhur Kasampurnan Budi Luhur.

Pendiri sekaligus Pembina SRM, Ki Suryo Alam menegaskan, selama sembilan tahun ini pihaknya baru menyuguhkan lapisan luar organisasi kepada masyarakat. Langkah besar ini sengaja ditahan karena harus menunggu titi wanci atau hitungan jangka waktu yang tepat menurut tradisi Jawa.

Istimewanya, ajaran luhur ini sekarang telah resmi diakui oleh negara melalui Kementerian Kebudayaan. “Ini menjadi muara dari semua ajaran budi pekerti Nusantara yang sah diakui negara,” tegas pihak padepokan dalam keterangan tertulisnya.

Menjaga Kemurnian Sanad Guru

Secara silsilah keilmuan, Ki Suryo Alam menurunkan ajaran spiritual Kawruh Jawa Kasampurnan Budi Luhur yang bersumber langsung dari gurunya, Romo Cokro Wibowo atau yang dikenal sebagai Ki Ageng Damar Asih.

Hubungan panyatran (guru-murid) yang sakral ini menempatkan Romo Cokro Wibowo sebagai pemegang kunci ajaran awal. Ki Suryo Alam kemudian mengemban amanah besar untuk menguraikan (medar) kawruh tersebut agar lebih mudah dicerna oleh masyarakat modern, tanpa sedikit pun mengubah esensi kesucian ajaran aslinya.

Ada empat pilar utama ajaran Kasampurnan Budi Luhur yang ditekankan kepada para jemaah:

* Sangkan Paraning Dumadi: Memahami asal-usul penciptaan dan arah tujuan akhir hidup manusia.

* Kasampurnan Hidup: Mencapai kesempurnaan batin lewat penyucian diri dan pengendalian hawa nafsu.

* Memayu Hayuning Bawana: Kewajiban menjaga kedamaian, keserasian, dan kelestarian alam semesta yang dimulai dari kedamaian diri sendiri

* Budi Luhur (Akhlak Mulia): Menjadikan etika, tata krama, kasih sayang, dan kejujuran sebagai fondasi utama dalam bertindak.

Metode “Ngaji Roso” Jadi Senjata Olah Batin

Untuk menggembleng mental dan spiritual anggotanya, Padepokan SRM menggunakan metode unik yang disebut Ngaji Roso (Mengaji Rasa). Praktik ini ditegaskan bukan pengajian syariat formal, melainkan sebuah metode olah rasa dan introspeksi diri (muhasabah).
Dalam praktiknya, Ngaji Roso menjembatani pendekatan falsafah tasawuf Islam makrifat dengan kearifan lokal Kejawen peninggalan era Kerajaan Majapahit. Di lapangan, aktivitas ini dibagi menjadi empat pilar kegiatan rutin:

1. Olah Rasa dan Meditasi Batin: Digelar pada waktu khusus seperti rutinan Malam Jumat Pon dan Malam 1 Suro. Jemaah diajak duduk hening (menep) untuk menenangkan pikiran dan meredam ego dhohir.

2. Bedah Kitab dan Falsafah Hidup (Ngaji Kawruh): Mengupas tuntas makna filosofis sastra adiluhung Jawa, mulai dari tembang macapat hingga suluk leluhur Majapahit.

3. Dialog Interaktif (Jagong Kebatinan): Forum sambung rasa antar-manusia untuk mengulas masalah kehidupan, psikologi spiritual, hingga solusi menghadapi problematika modern dengan kepala dingin.

4. Apresiasi Simbolisme Benda Pusaka: Proses membaca “rasa” sebilah keris. Benda pusaka tidak hanya dilihat bentuk fisiknya (dhapur/pamor), melainkan dipandang sebagai doa visual dan cerminan karakter empiris empu pembuatnya.

Gerakan sinau bareng spiritualitas Nusantara ini bahkan sudah merambah dunia digital dan viral melalui Kanal YouTube Ngaji Roso yang aktif membahas topik serupa bersama para tokoh spiritualis dan budayawan nasional.

Aktif Ritual Adat hingga Aksi Sosial

Sebagai organisasi yang hidup di tengah masyarakat Trowulan, SRM tidak hanya fokus pada olah batin. Mereka dikenal sangat aktif menyelenggarakan berbagai kegiatan kebudayaan ritual, sosial, dan pameran benda pusaka.

Beberapa agenda tahunan yang rutin menyedot perhatian warga antara lain Upacara Mangesti Malam 1 Suro dan ritual Larung Sesaji sebagai bentuk rasa syukur bersih desa.

Selain itu, SRM juga konsisten menggelar Bursa Pusaka Mojopahit serta Edukasi Tosan Aji. Kegiatan pameran keris dan tombak purbakala ini kerap diselenggarakan bekerja sama dengan pemerintah daerah di kawasan Mojokerto dan Jombang demi mengenalkan sejarah Majapahit kepada generasi muda.

Aksi nyata di masyarakat juga diwujudkan lewat bakti sosial, penyaluran santunan, serta forum Jagong Budaya (sarasehan) antarpenggiat budaya untuk menjaga ketahanan sosial-budaya di era modern. Langkah berani SRM membuka inti ajaran di tahun 2026 ini diharapkan menjadi magnet baru bagi milenial untuk kembali mencintai akar budaya leluhur Nusantara.

Pewarta: Imam Syafi’i

 

Iklan Promo
Iklan Promo

Iklan Harian Radar!

Dapatkan penawaran menarik hanya untuk Anda. Jangan lewatkan kesempatan ini!

Hubungi Agen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *