Surabaya – Aliansi Pemuda Jawa Timur (APJ) menyampaikan sikap tegas terkait pernyataan yang disampaikan oleh sosok yang dikenal dengan nama Tiyo. Organisasi kepemudaan tersebut menilai ucapan yang dilontarkan Tiyo telah melewati batas etika dalam menyampaikan kritik dan berpotensi memicu perpecahan di tengah masyarakat.
Ketua Umum Aliansi Pemuda Jawa Timur, Sulaiman Darwis, menegaskan bahwa kritik terhadap pemerintah maupun Presiden merupakan bagian dari hak demokrasi yang dijamin dalam negara hukum. Namun demikian, menurutnya, kebebasan berpendapat tetap harus disertai dengan tanggung jawab moral dan etika dalam berkomunikasi.
“Saudara, apa yang Anda bicarakan adalah perkataan sensitif yang sangat berpotensi memecah belah masyarakat. Mengkritik pemerintah dan presiden itu boleh, tetapi harus menjaga etika. Jangan sampai menggunakan kata-kata yang menghina atau merendahkan orang lain, apalagi seorang Presiden yang dipilih secara sah oleh rakyat melalui pemilu,” tutur, Darwis sapaan akrab, pada Sabtu (13/6).
Menurut Darwis, banyak masyarakat Jawa Timur yang merasa tersinggung atas pernyataan tersebut karena dinilai tidak mencerminkan budaya santun yang selama ini dijunjung tinggi oleh masyarakat Indonesia.
Ia juga mempertanyakan kontribusi nyata yang telah dilakukan oleh pihak yang bersangkutan sebelum melontarkan kritik yang dianggap berlebihan dan merendahkan pihak lain.
“Kami sebagai warga Jawa Timur sangat tersinggung dengan pernyataan yang menghina Presiden Prabowo. Kritik boleh dilakukan, tetapi jangan merasa paling benar, paling bersih, atau paling suci sehingga merendahkan orang lain,” tegas, Darwis.
Darwis menilai bahwa perbedaan pandangan politik seharusnya tidak menjadi alasan untuk menghilangkan rasa hormat terhadap lembaga negara maupun kepala negara yang dipilih melalui mekanisme demokrasi.
Sebagai bentuk respons terhadap polemik tersebut, Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan sikap penolakan terhadap berbagai kegiatan yang menghadirkan Tiyo di wilayah Jawa Timur.
APJ menilai bahwa kehadiran figur publik atau aktivis yang dinilai tidak menjaga etika dalam berbicara berpotensi memicu keresahan dan konflik sosial di tengah masyarakat.
“Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan sikap menolak kedatangan Tiyo ke Jawa Timur. Kami tidak menginginkan daerah kami menjadi tempat bagi figur yang tidak menunjukkan kesantunan dalam berbahasa dan berkomunikasi di ruang publik,” kata, Darwis, saat ditemui wartawan.
Ia menambahkan bahwa organisasi yang dipimpinnya akan mengawal sikap tersebut secara konstitusional dan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga kondusivitas daerah tanpa melakukan tindakan yang melanggar hukum.
Di akhir pernyataannya, Darwis mengajak seluruh masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menjadikan ruang publik sebagai sarana diskusi yang sehat, beradab, dan konstruktif.
Menurutnya, demokrasi yang sehat tidak hanya ditunjukkan melalui kebebasan berbicara, tetapi juga melalui kemampuan menghormati perbedaan pendapat dan menjaga persatuan bangsa.
“Perbedaan pandangan adalah hal yang wajar dalam demokrasi. Namun, menjaga etika, menghormati sesama, dan tidak menggunakan bahasa yang merendahkan tetap menjadi tanggung jawab bersama,” pungkasnya.
Pernyataan sikap Aliansi Pemuda Jawa Timur menunjukkan bahwa kritik terhadap pemerintah tetap harus disampaikan dalam koridor etika dan kesantunan. Organisasi tersebut menilai ucapan yang dianggap menghina Presiden Prabowo Subianto tidak hanya menyinggung sebagian masyarakat, tetapi juga berpotensi memicu perpecahan. Karena itu, APJ menyatakan penolakan terhadap kehadiran Tiyo di Jawa Timur sembari mengajak masyarakat menjaga persatuan, demokrasi yang sehat, dan budaya dialog yang beradab.
