Surabaya— TPA Jam’iyyatul Athfal Al Mauludiyyah Surabaya Masjid Syuhada Kebangsren menggelar Milad Ke-59 selama 2 hari tanggal 29 hingga 30 Juli 2024 bertempat di Kebangsren Gang 2 Lebar, Kelurahan Genteng, Kecamatan Genteng Surabaya.
Puncak pelaksanaaan milad itu sendiri, ditandai dengan pemotongan tumpeng. Pada hari pertama, Sabtu (29/06) dan pementasan seni tari, serta drama untuk mencetak anak didik yang berkualitas dibidang akademik maupun bidang keagamaan, demi menanamkan akhlakul karimah, pendekatan kepada tuhan yang maha Esa supaya memiliki pedoman dan prinsip yang dapat dipegang sejak dini hingga tumbuh besar nantinya.
Selanjutnya, hari kedua Minggu (30/06) dengan memberikan santunan anak yatim piatu dan di lanjut Pengajian ceramah agama oleh KH Rifky Bukhori demi kemaslahatan bersama.
Dalam pidatonya, Muhammad Solichin selaku ketua TPA Jam’iyyatul Athfal Al Mauludiyyah Surabaya berpesan bahwa ada empat fondasi yang perlu diperhatikan santri dalam membangun peradaban. Empat fondasi itu adalah akidah tauhid, ilmu, akhlak dan seni.
“Pilar pertama dari peradaban adalah iman, tauhid. Fondasi akidah menjamin semua hal dalam kehidupan. Akidah tauhid membuat manusia menjadi optimistis dengan keadaan dan masa depan,” ujarnya.
Tauhid sendiri kata dia juga bersifat mengokohkan persamaan, persatuan dan kemanusiaan.
“Tidak boleh ada diskriminasi karena perbedaan kelas sosial, status, dan seterusnya,” imbuhnya.
Setelah fondasi tauhid, maka kedua adalah fondasi ilmu. “Ilmu itu bisa membangun, mewujudkan apa yang menjadi imajinasi dan cita-cita mereka. Ilmu itu melebihi pengetahuan, ada imajinasi-imajinasi, melampuai batas-batas, keterbatasan fisik manusia juga. Manusia memiliki memiliki fitrah ilmu,” jelasnya.
Sedangkan fondasi ketiga, adalah akhlak. Akhlak sendiri bukan hanya berlaku individual, melainkan kolektif.
“Akhlak menjadi pembeda atas peradaban yang dibangun atas fondasi pengetahuan belaka. Dia yang menjadi sebab bahwa ilmu dan teknologi bisa menjadi kemaslahatan bagi manusia. Kalau tidak, maka teknologi itu bisa menghasilkan kerusakan yang luar biasa,” kata dia.
“Ketaatan pada hukum, norma-norma, susila, sosial yang berlaku di masyarakat,” tambahnya.
Adapun fondasi keempat adalah fondasi seni.
“Kalau tidak ada seni, akan senewen. Tidak ada cita rasa, membuat hidup lebih indah. Dia menjadi mengkreasi sesuatu,” ungkapnya.
Secara terpisah, Rina selaku ketua panitia juga berucap syukur Alhamdulillah, atas Milad Ke-59 TPA Jam’iyyatul Athfal Al Mauludiyyah Surabaya yang berjalan lancar, dan kami atas nama ketua panitia mengucapkan terima kasih atas kerja keras semua panitia, serta support para orang tua santri dan donatur yang telah mensukseskan acara ini.
“Karena tidak ada kata lelah untuk semua panitia demi terselenggaranya Milad Ke-59 TPA Jam’iyyatul Athfal Al Mauludiyyah yang bertujuan mengembirakan para santri dengan menampilkan pentas seni demi mengasah kemampuan dan talentanya, Namum tetaplah raihlah, kesuksesan Dunia Akhirat-mu dengan terus mengkaji Al Qur’an” sebagai perjalanan hidup demi kebahagiaan kita semua,” ucap Rina.
Rina berharap kepada orang tua santri teruslah berikan semangat kepada putra-putri kita untuk terus belajar, mengaji dan mengkaji isi Al-Qur’an, untuk menjadikan mereka anak sholeh-sholehah yang berakhlak mulia dan berbakti kepada kedua orang tua, serta berguna bagi masyarakat, nusa bangsa.
Reporter: Rifai
