Suprianto menceritakan singkat bahwa, pandemi dirasakan olehnya yang berdampak pada penurunan produksi tempe miliknya, tetapi berbagai upaya yang dilakukan mampu membuatnya bertahan dan tetap menjalankan produksi tempenya.
“Dikarenakan permintaan konsumen dipasaran masih sangat tinggi tetapi keterbatasan modal usaha yang tidak seimbang dengan kebutuhan harga pokok produksi misalnya kedelai. Apalagi hingga saat ini kami masih belum tersentuh bantuan oleh Pemerintah, tetapi kami harus mampu bertahan melalui semua ini, alhamdulillah saat ini produksi tempe kami mulai stabil dan mampu menghasilkan 200 tempe setiap harinya.”tuturnya.





