Indeks
News, Opini  

100 Hari Kepergian Ayahanda Sawir Bin Saniden

 

Surabaya – 100 hari mengenang Ayah setelah pergi tak akan kembali dari dunia fana membuat kedua jendela dunia mengembun, bahwa syukur yang tiada terkira memiliki Ayah sepertimu. Seperti terang dan gelap berputar silih berganti menghiasi hari demi hari, bulan demi bulan hingga tanpa terasa kini telah 100 hari engkau meninggalkan dunia fana (17/07/2021 – 23/10/2021).

Aku tahu, pastilah kau telah tenang disisi-Nya. Tapi kenangan tentangmu dihati kami tidak akan pernah mati meski tahun telah berganti, tidak akan pernah hilang meski begitu banyak urusan berlalu lalang,

Dirimu adalah sosok ayah yang sama sekali tidak materialis, meski engkau adalah pekerja keras untuk menghidupi keluarga demi memberikan yang terbaik untuk anak-anakmu, meski kehidupan tiada henti menghampiri, namun engkau tetap sabar untuk tetap mendidik anak”mu yang cukup, hingga semua dewasa.

Ayahanda engkau memiliki jiwa tawakkal yang sangat tinggi, apapun yang tengah menimpa, ujian seberat apapun engkau jalani dengan tetap tersenyum dan berpasrah sepenuhnya pada-Nya “Bahwa Dia Maha Adil…”.

Kejayaan yang pernah kau alami di masa hidupmu tidak membuatmu gila dunia, tetapi justru semakin menjadikanmu taqwa kepada Alloh.

Dirimu pernah berkata, Harta itu cuma titipan, yang suatu saat bisa diambilnya kembali. “Ingatku”.

Sementara, Ibu selalu mengajarkan padaku untuk belajar yang baik, untuk sekolah setinggi mungkin, sehingga jadi orang sukses. Tapi engkau tidak pernah menuntut anakmu untuk banyak hal, engkau hanya selalu mengajarkan dan mengingatkan. Jadilah orang yang baik dan Taqwa.

Ternyata kalian berdua adalah sosok yang saling melengkapi untuk mengajarkan nilai- nilai kebaikan kepada kami.

“Celaka! Orang yang semakin banyak ilmunya, tetapi tidak semakin mendekatkan dirinya kepada-Nya.” Itu katamu.

Cintamu begitu tulus kepada kami.

Maafkan aku, yang belum sempat membahagiakanmu.

Maafkan aku, yang belum bisa meneladani kebijaksanaanmu.

Maafkan aku, yang belum bisa mencontoh ibadahmu. Maafkan aku, yang mungkin kurang memperhatikan kesehatanmu.

Maafkan aku, yang kemarin tidak cukup memberikan banyak waktu untukmu, karena sering sibuk dengan urusan sendiri.

Maafkan aku yang terlalu asik dengan duniaku sehingga sering membiarkanmu sendiri.

Maafkan aku yang terlalu enjoy, sementara mungkin kau membutuhkan teman untuk sekedar ngobrol.

Kami tetap mengingat di hari terakhir kesadaranmu, syakarotul maut menjemputmu ku berada jauh disisimu yang paling mulia. Semoga Allah menempatkamu di sisi-nya, Perjuanganmu yang luar biasa, pengabdianmu yang luar
biasa, ketaatanmu yang luar biasa.

Semoga anak-anakmu dapat meniru keteladananmu, agar menjadi jalan pahala untuk-mu yang tiada pernah berhenti. Amiin_amiin_amiin ya robbal alami.

Akhir doa, dengan segala kehormatan, ketundukan, juga cinta untuk mu Ayah, Terimakasih banyak untuk segala yang telah engkau berikan kepada kami, terutama jasamu tidak pernah bisa terbayar dengan apapun. Hanya Alloh yang mampu membalas semuanya.

Doa, Al-Fatihah selalu mengeringi kepergianmu Ayah, Sawir Bin Sanidin dan Ibu, Busari Bin Abdul Karim

Al-Fatihah

  • بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
    Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
    1. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang
  • اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
    Alhamdu lillaahi Rabbil ‘aalamiin
    2. Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam,
  • الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
    Ar-Rahmaanir-Rahiim
    3. Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang,
  • مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ
    Maaliki Yawmid-Diin
    4. Pemilik hari pembalasan.
  • اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ
    Iyyaaka na’budu wa lyyaaka nasta’iin
    5. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.
  • اِھْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَـقِيْمَ
    Ihdinas-Siraatal-Mustaqiim
    6. Tunjukilah kami jalan yang lurus
  • صِرَاطَ الَّذِيۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ ۙ غَيۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا الضَّآلِّيۡنَ
    Siraatal-laziina an’amta ‘alaihim ghayril-maghduubi ‘alaihim wa lad-daaalliin
    7. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

 

  • Opini : Mooch
Exit mobile version