Surabaya – Mengukir sejarah bagi dunia UKM atau UMKM Jawa Timur. Halal Fest yang diselenggarakan oleh pameran (EO) dari Yogyakarta, di Jatim Expo (JX) Jalan Ahmad Yani Surabaya, harus berbasis profit oriented dengan menafikan konsep pemberdayaan yang jelas bagi pelaku usaha.
Penegasan sejarah yang MAKI Jatim maksudkan adalah bahwa penyelenggaraan pameran harus berbasis profit oriented dengan menafikan konsep pemberdayaan yang jelas bagi pelaku usaha UKM atau UMKM Jawa Timur.
Seperti yang diketahui bersama, penyelenggaraan Jatim Halal Fest di Jatim Expo (JX) di Jalan Ahmad Yani Surabaya, untuk masuk saja harus dikenakan pembayaran Rp.15.000 dan keberadaan stand untuk pelaku usaha yang berbasis UKM/UMKM juga harus bayar Rp. 2.800.000 sampai Rp. 3.000.000 per stand selama 3 hari melangsungkan pameran tersebut.
Di tengah maraknya program pendampingan dan pengurusan sertifikasi halal dan merk GRATIS dari Dinas Koperasi UKM Jatim, Disperindag Jatim, Kanwil Kemenag Jatim, beberapa lembaga rektorat seperti ITS, khusus untuk Jatim Halal Fest ini, mendengarkan sosialisasi merk dan halal, kita harus merogoh kocek Rp 15.000 untuk tiket masuk.
“Jatim Halal Fest ini dibuka resmi oleh Menteri Koperasi yang notabene merupakan perwakilan resmi pemerintah, dalam hal ini kami minta kepada Bapak Presiden Jokowi, harusnya lebih menekankan kepada konsep pentingnya memberdayakan pelaku usaha UKM/UMKM, bukan malah memberikan beban mereka untuk bayar dan bayar,” ungkap Heru Satriyo atau sapaan akrab Heru, Ketua LSM MAKI Korwil Jawa Timur.
Heru mengungkapkan, Saya yakin pihak EO, apabila sekelas Menteri Koperasi datang, pasti banyak bantuan yang masuk ke EO, bahkan saya lihat beberapa sponsor seperti Bank Jatim dan Bank UMKM Jatim, dobel, berkenan senagai sponsor ship.
“Itu sponsor ngasih uang bukan ngasih nasi bungkus dan air putih lho ya,” ungkap Heru MAKI.
Heru Maki menegaskan, seperti yang disimpulkan bahwa keberadaan kegiatan Jatim Halal Fest ini, tidak memberikan sebuah edukasi yang berarti bagi UKM/UMKM dan kaburnya tujuan dilaksanakannya Jatim Halal Fest ini terutama bagi pelaku usaha UKM/UMKM Jawa Timur.
“Terus tujuan Jatim Halal Fest ini apa sebenarnya?” tanya Heru MAKI.
Lanjut Heru MAKI, bagus kalau kehadiran Jatim Halal Fest ini dilakukan sosialisasi akbar pentingnya sertifikasi halal dan merk, di mana sesuai UU Cipta kerja, semua mamin harus punya sertifikat halal dan merk tahun 2024 nantinya.
Sementara dalam kesempatan lain, awak media ini mencoba mewawancarai salah satu peserta yang memajang dan mengembalikan sebagian besar produk dari Asosiasi Ojol Mandiri, dan ketika ditanya, mereka menyampaikan bahwa pamerannya sepi dan tidak mungkin bisa habis bajet sesuai yang diharapkan.
Inilah gambaran ilustrasi real terkait apa yang terjadi dalam pameran Jatim Halal Fest 2023 Maret kali ini.
“MAKI Jatim dengan EO Kalinda, 2 kali kami bikin pameran, kami berikan porsi GRATIS untuk 85 persen total jumlah stand untuk UKM/UMKM, dengan fasilitas booth yang lengkap dan sangat memadai. Ini MAKI Jatim yang EO-nya Kalinda masih kelas coro saja bisa memberikan gratis keikutsertaan UKM/UMKM dan gratis juga bagi pengunjung untuk datang ke pameran,” tutur Heru.
Heru menambahkan, bahkan kami siapkan beberapa event menarik selama berlangsungnya pameran selama sekian hari, dengan ikhtiar untuk menaikkan volume jumlah pengunjung pameran, dengan harapan adanya perputaran keuangan yang sangat bermanfaat bagi pelaku usaha UKM/UMKM, kami saja bisa, kok ini ada EO sekelas gajah, malah semua berbayar.
MAKI Jatim secara kelembagaan berharap kepada Gubernur Jawa Timur dan Wakil Gubernur Jawa Timur untuk memberikan warning dan imbauan kepada semua EO penyelenggara pameran, apabila mengadakan pameran dengan melibatkan UKM/UMKM harus berani memberikan space 50-60% GRATIS kepada pelaku usaha UKM/UMKM Jawa Timur.
MAKI JATIM secara kelembagaan tidak akan pernah lelah untuk memberikan bahasa pengabdiannya kepada masyarakat pelaku usaha UKM/UMKM untuk memberdayakan dengan jelas dan terarah menuju mimpi MAKI Jatim untuk mendirikan RUMAH BESAR UKM/UMKM “GOES TO EXPORT” JAWA TIMUR.





