SURABAYA – Nada bicara Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi meninggi saat berdiri di tengah kepulan debu Jalan Bratang Binangun, Kamis (5/11/2026). Raut wajahnya mengeras menatap gundukan material pasir yang meluber tak beraturan, memakan sebagian besar badan jalan utama kota.
Hari itu, kesabaran orang nomor satu di Surabaya tersebut habis melihat buruknya manajemen proyek yang menyengsarakan pengguna jalan.
Kemarahan Eri terekam jelas dalam sebuah video yang diunggah di akun Instagram pribadinya, @ericahyadi_. Tanpa basa-basi, ia langsung mengonfrontasi kontraktor proyek dan jajaran Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Surabaya yang berada di lokasi. Arus lalu lintas yang tersendat dan antrean panjang kendaraan yang mengular di belakangnya menjadi bukti otentik dari kelalaian kerja yang ia soroti.
“Ini jalan utama. Mana kontraktornya? Bagaimana kerjamu? Mau membuat macet seperti ini?” cecar Eri dengan nada tegas dan menuntut jawaban.
Bagi Eri, alasan kendala teknis di lapangan sama sekali tidak bisa ditoleransi jika mengorbankan kenyamanan warga. Ia menegaskan, pengerjaan infrastruktur di jalur vital seperti Bratang Binangun harus memiliki perencanaan matang, termasuk mitigasi risiko jika terjadi kendala pada alat berat di malam hari.
“Kalau kamu menggelar material seperti ini malam hari, ketika ada kendala dan alatnya tidak bisa digunakan, ya sudah, kamu tutup dan jaga. Jangan ditinggal begitu saja,” lanjut Eri, meluapkan kekecewaannya pada kontraktor yang dinilai lepas tanggung jawab dan mengabaikan keselamatan publik.
Situasi kian memanas saat Eri mengetahui tidak ada pengamanan maupun pengaturan lalu lintas yang memadai di sekitar lokasi proyek. Menurutnya, koordinasi dengan pihak kepolisian adalah prosedur wajib jika sebuah proyek terpaksa memakan hak pengguna jalan.
Tak berhenti di pihak kontraktor, amarah Wali Kota juga menyasar internal birokrasinya. Kepala Bidang Jalan dan Jembatan DSDABM Surabaya, Dedy Purwito, yang mendampingi peninjauan tersebut, tak luput dari teguran keras. Eri mempertanyakan fungsi pengawasan melekat yang seharusnya dilakukan oleh pejabat teknis, terutama saat proyek berjalan hingga larut malam dan berpotensi memicu kemacetan parah.
Di akhir sidak, Eri Cahyadi memberikan peringatan terakhir yang sangat krusial. Ia mengingatkan jajarannya bahwa jabatan kepala bidang bukanlah sekadar fasilitas, melainkan sebuah tanggung jawab besar kepada masyarakat.
Dengan mata menatap tajam, Eri melayangkan ancaman pemecatan yang tidak main-main. Jika kelalaian serupa yang merugikan hajat hidup orang banyak kembali terulang, ia memastikan tidak akan segan-segan mencopot pejabat dinas terkait dari kursinya.


















