SURABAYA — Senin, 26/10/2026. Pelatihan pembuatan produk sering menjadi pilihan dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat. Namun, ada pertanyaan yang perlu kita ajukan setelah pelatihan selesai: apakah keterampilan tersebut akan berhenti sebagai pengalaman sesaat, atau dapat berkembang menjadi kegiatan ekonomi yang berkelanjutan?
Pertanyaan ini menjadi refleksi saya sebagai dosen pembimbing KKN dalam kegiatan pelatihan pembuatan sabun cuci piring serai dan jeruk nipis di Kelurahan Nginden, Surabaya. Kegiatan yang melibatkan sekitar 30 peserta tersebut membuka ruang untuk melihat hubungan antara keterampilan produksi, kebutuhan rumah tangga, dan peluang usaha warga.
Sabun cuci piring dekat dengan keseharian masyarakat. Kedekatan ini dapat menjadi titik awal untuk mengenali kebutuhan calon pembeli. Namun, kebutuhan yang berulang tidak otomatis menjamin bahwa produk baru akan diterima. Warga tetap akan berhadapan dengan beragam merek, pilihan harga, dan kebiasaan konsumen yang sudah terbentuk.
Karena itu, menurut saya, pelatihan produksi perlu diikuti dengan pembelajaran pemasaran yang sederhana dan dapat dijalankan oleh warga.
“Keterampilan membuat produk adalah modal awal. Nilai ekonominya mulai terbentuk ketika warga memahami siapa pembelinya, apa kebutuhannya, dan bagaimana membangun alasan agar produk tersebut dipilih kembali.”
Untuk usaha yang baru dirintis, langkah pertama bukan membuat kemasan sebanyak mungkin atau langsung menawarkan produk kepada semua orang. Langkah awalnya ialah menentukan calon pembeli yang paling mungkin dijangkau. Dalam konteks kegiatan ini, rumah tangga di lingkungan sekitar dapat menjadi pasar awal untuk mempelajari kebutuhan dan tanggapan pengguna.
Warga dapat mencari tahu ukuran kemasan yang disukai, kisaran harga yang bersedia dibayar, serta pertimbangan konsumen ketika memilih sabun cuci piring. Jawaban atas pertanyaan tersebut membantu pelaku usaha mengambil keputusan berdasarkan kebutuhan pembeli.
Langkah berikutnya ialah merumuskan nilai yang ditawarkan. Penggunaan serai dan jeruk nipis dapat menjadi bagian dari identitas produk, tetapi penyampaian manfaatnya harus sesuai dengan karakteristik yang benar-benar dapat dibuktikan. Klaim seperti antibakteri, aman untuk kulit sensitif, atau ramah lingkungan memerlukan dasar pengujian yang memadai.
Kepercayaan konsumen justru dapat mulai dibangun melalui hal-hal yang konkret: informasi produk yang jelas, volume yang sesuai, kemasan yang tidak mudah bocor, serta kualitas yang konsisten.
Penetapan harga juga perlu mendapat perhatian. Harga murah memang dapat menarik pembeli, tetapi harga yang terlalu rendah berisiko membuat usaha sulit bertahan. Warga perlu menghitung biaya bahan, kemasan, tenaga, dan distribusi sebelum menentukan harga jual. Dengan demikian, setiap penjualan memberikan ruang keuntungan yang layak untuk melanjutkan produksi.
Untuk memperkenalkan produk, pemasaran dapat dimulai melalui jaringan yang sudah dimiliki warga, seperti tetangga, kelompok PKK, dan WhatsApp. Saluran ini memungkinkan komunikasi langsung dengan calon pembeli sekaligus memudahkan pengumpulan masukan.
Produksi awal sebaiknya dilakukan dalam jumlah terbatas. Setelah memperoleh tanggapan pengguna, pelaku usaha dapat mengevaluasi produk, ukuran kemasan, harga, dan cara penawarannya. Pertanyaan pentingnya bukan hanya berapa banyak produk yang terjual, tetapi juga apakah pembeli bersedia melakukan pembelian ulang dan apa alasannya.
Pendekatan tersebut menempatkan pemasaran sebagai proses belajar memahami konsumen. Promosi tetap diperlukan, tetapi keberlanjutan usaha membutuhkan kesesuaian antara janji yang disampaikan dan pengalaman yang diterima pembeli.
Dari perspektif pembangunan berkelanjutan, pelatihan ini memiliki keterkaitan dengan SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, khususnya pengembangan keterampilan untuk pekerjaan dan kewirausahaan. Kegiatan ini juga sejalan dengan semangat SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui penguatan kapasitas produktif dan peluang pengembangan usaha mikro.
Meski demikian, keterkaitan tersebut perlu diterjemahkan menjadi tindak lanjut yang terukur. Bertambahnya pendapatan warga tidak dapat disimpulkan hanya dari terselenggaranya satu pelatihan. Perlu dilihat apakah peserta mampu memproduksi secara mandiri, menghitung biaya, memenuhi ketentuan sesuai kategori produk, dan mendapatkan pelanggan.
Bagi saya, peran perguruan tinggi dalam pemberdayaan masyarakat perlu menjangkau proses tersebut. Mahasiswa dapat membantu warga menyusun pencatatan biaya, membuat materi promosi yang jujur, dan mengumpulkan tanggapan calon pembeli.
Pelatihan sabun cuci piring serai dan jeruk nipis di Kelurahan Nginden merupakan sebuah langkah awal. Peluang ekonominya akan lebih terbuka apabila keterampilan produksi diikuti pemahaman pasar dan pendampingan yang sesuai kebutuhan warga. Dari lingkungan tempat tinggal, proses belajar berusaha dapat tumbuh secara bertahap, dengan keputusan yang realistis dan manfaat yang dapat dievaluasi.
Oleh: Dewi Deniaty Sholihah – Dosen UPN “Veteran” Jawa Timur


















