banner 728x250

Meluruskan Mitos Sawunggaling: Kisah Joko Berek dan Perjalanan Spiritual Kedaulatan Arek Suroboyo

Meluruskan Mitos Sawunggaling: Kisah Joko Berek dan Perjalanan Spiritual Kedaulatan Arek Suroboyo
Meluruskan Mitos Sawunggaling: Kisah Joko Berek dan Perjalanan Spiritual Kedaulatan Arek Suroboyo
banner 120x600

OPINI | SURABAYA  – Nama Raden Sawunggaling sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Jawa Timur, khususnya warga Kota Surabaya. Tokoh legendaris yang makamnya di kawasan Lidah Wetan kini menjadi situs cagar budaya Kota Surabaya ini kerap diidentikkan dengan cerita rakyat bermuatan laga, adu ayam jantan, hingga intrik perebutan kekuasaan kadipaten. Namun, jika ditelisik dari kacamata sejarah kritis dan perspektif akademis, kisah hidup Sawunggaling menyimpan esensi spiritual yang jauh lebih mendalam dari sekadar dongeng pengantar tidur.

Sejumlah kajian budaya dan literatur sejarah meluruskan bahwa narasi Sawunggaling sebenarnya merupakan sebuah alegori atau cerminan dari perjalanan spiritual manusia dalam mencapai pendewasaan serta kedaulatan diri.

banner 325x300

Lahir dengan nama asli Joko Berek, ia merupakan putra dari penguasa Surabaya, Adipati Jayengrono III, hasil pernikahan dengan Raden Ayu Dewi Sangkrah, putri asal Blambangan. Masa kecil Joko Berek dihabiskan di pinggiran barat Surabaya dengan penuh keprihatinan.

Secara etimologis berdasarkan penafsiran bahasa Jawa kuno, kata “Berek” kerap dikaitkan dengan makna yang peyoratif atau merendahkan. Para peneliti budaya menyebutkan hal ini merepresentasikan fase awal kehidupan sang tokoh yang penuh dengan cercaan, ujian hidup yang hebat, serta stigma sosial karena tumbuh tanpa kehadiran figur seorang ayah di sisinya.

Titik balik kehidupan Joko Berek terjadi ketika ia berhasil memenangkan sayembara memanah umbul-umbul Tunggul Yuda di atas kincir angin yang digagas oleh pihak Kadipaten dan VOC. Keberhasilan ini membawanya pada pencerahan spiritual sekaligus legitimasi politik. Ia pun dianugerahi gelar resmi Raden Mas Ngabehi Sawunggaling Kulmo Sostronegoro.

Dalam tinjauan filologi, nama gelar “Kulmo” atau “Kulma” memiliki makna filosofis, yaitu “memotong”. Yang dipotong dalam konteks spiritual ini bukanlah kepala musuh, melainkan hawa nafsu keduniawian, keserakahan, dan ambisi kekuasaan yang korup—karakteristik yang justru diadopsi oleh saudara-saudara tirinya, Sawungrana dan Sawungsari, yang memilih bersekutu dengan kompeni demi jabatan.

Salah satu distorsi sejarah yang paling sering diluruskan dalam diskusi akademis adalah interpretasi mengenai ayam jantan peliharaan Sawunggaling yang bernama Bagong. Dalam pertunjukan seni rakyat seperti Ludruk, Sawunggaling kerap digambarkan sebagai jagoan sabung ayam tradisional.

Namun, fakta sejarah di balik paguyuban pelestari situs meralat stigma tersebut dan menegaskan bahwa ayam jantan tersebut bukanlah alat judi. Dalam semiotika budaya Jawa, ayam jantan merupakan simbol ksatria, ketangguhan, dan keberanian bertarung sampai mati demi mempertahankan harga diri bangsa. Kehadiran ayam Bagong adalah personifikasi dari karakter Sawunggaling sendiri: berani, mandiri, dan pantang tunduk pada penindasan kolonial.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa Sawunggaling hidup pada periode krusial saat Kesultanan Mataram mulai menyerahkan kedaulatan wilayah Surabaya kepada VOC sekitar pertengahan abad ke-18. Berbeda dengan sebagian elite kadipaten lainnya yang memilih cari aman, Sawunggaling secara konsisten berdiri di pihak masyarakat bawah. Ia menentang keras segala bentuk kebijakan eksploitatif Belanda.

Keteguhan sikapnya ini berujung pada konfrontasi fisik. Meski sempat menghadapi upaya pembunuhan via minuman beracun dalam pesta penobatannya—yang berhasil digagalkan oleh sekutunya, Adipati Cakraningrat dari Madura—Sawunggaling tetap maju ke garis depan. Ia memimpin perang gerilya di wilayah Gerbangkertasusila hingga berhasil memukul mundur pasukan Kompeni di wilayah Lamongan.

Perjuangan Sawunggaling terhenti saat ia gugur di medan laga tanpa pernah menikah, sebuah keputusan hidup yang diambilnya karena memilih mencurahkan seluruh hidup dan cintanya demi bumi tanah kelahiran. Jasad ksatria Surabaya ini kini bersemayam di Makam Raden Sawunggaling, Lidah Wetan, yang telah resmi ditetapkan sebagai situs cagar budaya.

Melalui rekonstruksi sejarah kritis, sosok Sawunggaling atau Joko Berek sejatinya bukan sekadar tokoh fiktif dalam drama panggung. Ia adalah representasi otentik dari jiwa Arek Suroboyo yang jujur, tegas memotong hawa nafsu kekuasaan, dan menolak tunduk pada ketidakadilan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You cannot copy content of this page