SURABAYA – Pembangunan infrastruktur di Kota Surabaya kembali memicu persoalan keselamatan publik yang serius. Pada Sabtu malam (10/10/2026), seorang pengendara sepeda motor berinisial BS bersama rekannya menjadi korban nyata dari buruknya manajemen kebersihan area kerja proyek galian U-Ditch di Jalan Raya Bratang Binangon. Korban terpeleset hingga mengalami luka parah pada bagian lutut dan cedera tangan yang membuatnya tidak dapat digerakkan.
Insiden ini langsung memicu kecaman dari pengguna jalan. Saksi mata di lokasi melihat korban kehilangan kendali akibat roda motornya menggilas ceceran material dan limbah proyek yang meluber ke badan jalan. Melihat kondisi korban yang terkapar, warga segera menghubungi layanan darurat Command Center 112. Petugas medis yang tiba di lokasi langsung memberikan pertolongan pertama sebelum melarikan korban ke Rumah Sakit (Rs) Soewandhie guna mendapatkan perawatan intensif.
Kelalaian Kontraktor: Nyawa Publik Jadi Taruhan
Kecelakaan ini bukan sekadar musibah biasa, melainkan cerminan kuat dari abainya aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) oleh pelaksana proyek. Ceceran material galian lumpur dan kerikil U-Ditch dibiarkan begitu saja mengotori aspal tanpa ada pembatas atau rambu peringatan yang memadai.
Kondisi ini diperparah oleh minimnya pencahayaan di sekitar lokasi pada malam hari, menjadikannya “jebakan maut” bagi pengendara roda dua.
Geram dengan kondisi jalan yang dibiarkan amburadul, perwakilan warga sekitar sekaligus pengguna jalan harian, R (42), angkat bicara. Ia menegaskan bahwa kecelakaan yang menimpa BS bukanlah insiden pertama, melainkan puncak dari pembiaran kelalaian yang sudah berlangsung berhari-hari.
“Kami sudah lama was-was lewat sini kalau malam. Jalanan itu penuh sisa lumpur galian dan kerikil, kalau kena gerimis sedikit saja langsung licin seperti ban ditaruh di atas sabun. Ditambah lagi lampunya temaram dan tidak ada rambu scotlite (memantulkan cahaya) yang jelas dari jarak jauh,” ujar Roni dengan nada kesal.
Roni pengguna jalan mewakili warga menuntut agar pihak kontraktor tidak hanya membersihkan jalan saat proyek selesai, tetapi melakukan pembersihan berkala setiap kali operasional harian berhenti.
“Tolonglah, jangan tunggu ada korban jiwa baru sibuk bersih-bersih atau pasang pembatas. Kami mendukung pembangunan fasilitas kota, tapi jangan korbankan keselamatan warga yang pulang kerja malam hari demi mengejar target proyek mereka. Kontraktornya harus tanggung jawab, termasuk biaya pengobatan korban!” tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak kontraktor maupun dinas terkait belum memberikan pernyataan resmi atau bertanggung jawab atas insiden tersebut. Konfirmasi mendesak sedang diupayakan untuk meminta kejelasan mengenai SOP pembersihan sisa material yang jelas-jelas telah membahayakan nyawa masyarakat.
Kasus ini menjadi peringatan keras bagi Pemerintah Kota Surabaya agar tidak menutup mata terhadap kontraktor nakal. Pembangunan saluran air untuk mencegah banjir tidak boleh dibayar dengan darah warga di jalanan. Pengawasan ketat dan sanksi tegas harus dijatuhkan agar area proyek tidak terus-menerus menjadi mesin kelalaian yang mengorbankan masyarakat demi mengejar target proyek.


















