banner 728x250

Dugaan Matinya Rasa Empati? Pembangunan Saluran U-Ditch di Jalan Buntaran: Proyek Setengah Hati, Mengancam Keselamatan dan Roda Ekonomi Warga

Pembangunan Saluran U-Ditch 60/80 dengan Cover Gandar 10 ton yang berlokasi di Jalan Buntaran Rel Kereta Api ke Utara, Kelurahan Manukan Wetan, Kecamatan Tandes, Surabaya
Pembangunan Saluran U-Ditch 60/80 dengan Cover Gandar 10 ton yang berlokasi di Jalan Buntaran Rel Kereta Api ke Utara, Kelurahan Manukan Wetan, Kecamatan Tandes, Surabaya
banner 120x600

SURABAYA – Pembangunan Saluran U-Ditch 60/80 dengan Cover Gandar 10 ton yang berlokasi di Jalan Buntaran Rel Kereta Api ke Utara, Kelurahan Manukan Wetan, Kecamatan Tandes, Surabaya, Berdasarkan papan informasi proyek yang terpasang di lokasi, pengerjaan drainase modern ini dilakukan di bawah nomor kontrak 000.3.3/035/06.2.01.0012.EPC/436.7.3/2026. Proyek ini mempercayakan aspek konstruksi fisik kepada CV. Bangun Sukses Bersama selaku kontraktor pelaksana, dengan pengawasan dari CV. Makarya Engineering sebagai konsultan pengawas guna memastikan kualitas struktur sesuai standar teknis, Namun diduga gagal dan patut dinilai sebagai proyek setengah hati yang mengabaikan aspek keselamatan dan fungsionalitas lingkungan.

Foto yang diambil pada 5 Oktober 2026 ini memperlihatkan kondisi infrastruktur yang amburadul, berantakan, dan jauh dari kata standar kelayakan penataan kota dan menjadi sorotan tajam dari sudut pandang warga serta pekerja gudang di sekitar lokasi proyek.

banner 325x300

Pemasangan penutup beton (cover U-ditch) terlihat sangat berantakan, tidak presisi, dan terputus di tengah jalan. Bukannya menciptakan saluran air yang bersih dan lancar, area ini justru menjadi kubangan air keruh bercampur sampah plastik dan puing-puing reruntuhan material. Tumpukan batu dan tanah urukan dibiarkan berserakan di pinggir jalan, mempersempit ruang gerak publik dan merusak estetika lingkungan secara fatal.

“Ini bukan membangun fasilitas, tapi membangun jebakan maut! Penutup betonnya dipasang bolong-bolong begini, kalau malam hari tidak ada penerangan, bisa ada warga atau anak-anak yang terperosok ke dalam lubang. Belum lagi urukan tanahnya yang berantakan, kalau hujan langsung berubah jadi lumpur pekat dan licin. Kami bayar pajak, tapi disuguhi hasil kerjaan yang kualitasnya seadanya seperti ini!,” ujar warga lokal yang geram tidak mau disebut namanya ke harianradar.

Warga merasa hak mereka atas infrastruktur yang aman dan nyaman telah dirampas oleh kontraktor yang bekerja tanpa pengawasan ketat. Lubang menganga di tengah saluran beton tersebut menjadi ancaman nyata bagi keselamatan pejalan kaki.

Kawasan Buntaran ini lalu lintasnya padat oleh kendaraan berat dan truk kontainer yang keluar-masuk gudang. Kondisi pinggir jalan yang hancur dan tumpukan puing ini sangat mengganggu manuver kendaraan. Truk jadi kesulitan parkir atau berbelok. Kalau dibiarkan berbulan-bulan seperti ini, operasional logistik kami terhambat dan risiko kecelakaan kerja di luar area gudang meningkat tajam!”, katanya.

Tak hanya itu, Bagi para pekerja dan pelaku usaha gudang juga mengeluh, proyek yang terbengkalai ini menghambat roda ekonomi. Jalanan yang menyempit akibat material yang dibiarkan berserakan memicu kemacetan parah di jam-jam sibuk.

Di Mana Tanggung Jawab Kontraktor dan Pemkot? Pemandangan ini menjadi bukti nyata lemahnya pengawasan dari dinas terkait DSDABM di Kota Surabaya. Proyek yang seharusnya meminimalisir banjir justru meninggalkan masalah baru berupa ancaman keselamatan dan kekumuhan visual. Kontraktor wajib segera merapikan sisa material, menyelaraskan penutup U-ditch tanpa celah berbahaya, dan memastikan saluran terbebas dari sumbatan puing demi mengembalikan fungsi jalan yang layak bagi masyarakat.

Bukannya menyelesaikan masalah banjir, proyek ini malah menciptakan jebakan maut di pinggir jalan! Lihat saja penutup beton yang dipasang asal-asalan, bolong menganga di tengah-tengah, dan dipenuhi kubangan air keruh serta puing material yang dibiarkan berserakan.

“Kalau malam gak ada penerangan, ini bisa bikin orang terperosok! taruhannya nyawa. Belum lagi  tanah urukan ini berubah jadi lumpur pekat. Ini proyek fasilitas publik atau sarana celaka?!Akses logistik lumpuh! Kawasan Buntaran ini jalur truk besar. Pinggiran jalan hancur dan menyempit karena puing dibiarkan begitu saja bikin macet dan hambat operasional kerja!”, tegasnya.

Hingga berita ini dipublikasin, harianradar akan membuka ruang konformasi untuk menyajikan berita berimbang, warga menyampaikan di mana fungsi pengawasan Pemerintah Kota Surabaya dan Dinas terkait? Jangan biarkan kontraktor nakal kerja setengah hati, terima bayaran, lalu kabur meninggalkan kekumuhan dan bahaya nyata bagi warga! Kami menuntut kontraktor segera:

Merapikan sisa material dan puing yang memakan badan jalan.

Menutup total lubang U-ditch secara presisi demi keselamatan pejalan kaki.

Pembersihan saluran dari sampah proyek agar aliran air tidak tersumbat.

Warga Buntaran bayar pajak untuk pembangunan yang layak, bukan untuk disuguhi infrastruktur yang mengancam keselamatan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *