Indeks

Diduga Demi Keuntungan, Pokmas Balongsari Kompak: Proyek Saluran Air Jalan Balongsari Praja Ganti U-Ditch Jadi Paving Plesteran

Pokmas Balongsari Kompak Proyek Saluran Air Jalan Balongsari Praja Ganti U-Ditch Jadi Paving Plesteran
Pokmas Balongsari Kompak Proyek Saluran Air Jalan Balongsari Praja Ganti U-Ditch Jadi Paving Plesteran

SURABAYA – Pembangunan saluran U-Ditch 40/60 dengan cover gandar 5 ton di Jalan Balongsari Praja III dan IV RW 6, Kelurahan Balongsari, Kecamatan Tandes, Surabaya, yang dikerjakan pelaksana Kelompok Masyarakat (Pokmas) Balongsari Kompak, tahun anggaran APBD 2026, pimpinan proyek Nur Khafid, SE, M.Si., dengan tanggal pelaksanaan mulai 30 Juni 2026, sebuah potret memprihatinkan hingga jadi sorotan publik dan rapor merah.

Pembangunan drainase yang seharusnya berfungsi krusial untuk mencegah genangan di kawasan tersebut, justru dikerjakan dengan metode yang dinilai jauh dari standar teknis keselamatan dan ketahanan infrastruktur kota.

Berdasarkan pantauan visual di lokasi pada Selasa (11/8/2026), struktur penahan dinding saluran tersebut tidak menggunakan beton pracetak (U-ditch) maupun sistem cor di tempat. Namun konstruksi dinding justru terlihat menggunakan susunan paving block yang direkatkan secara manual dengan semen kastil.

Pilihan material ini langsung memicu kritik tajam dari publik, karena dinilai sebagai bentuk penurunan mutu (degradasi kualitas) proyek publik yang dibiayai oleh uang rakyat, tak akan bertahan dengan waktu lama dikarenakan rentan ambrol dan memghambat aliran air. Penggunaan susunan paving sebagai dinding saluran air memiliki kelemahan fatal jika dibandingkan dengan U-ditch atau cor beton,minim kekuatan struktural.

“Paving block didesain untuk menahan beban vertikal (sebagai landasan jalan), bukan beban lateral (tekanan tanah dan air dari samping). Risiko erosi tinggi terhadap tekanan air yang tinggi saat hujan deras dapat dengan mudah mengikis semen perekat di antara celah paving, memicu keretakan, dan menyebabkan dinding saluran ambrol,” kata pengamat tata kota setempat.

Material tanah dari samping yang merembes melalui celah-celah struktur yang rapuh ini lambat laun akan menyebabkan sedimentasi parah dan menyumbat aliran air. Di tengah masifnya program penanganan banjir Pemerintah Kota Surabaya yang gencar menggunakan U-ditch demi standarisasi dan percepatan, proyek di Balongsari Praja IV ini justru menjadi anomali yang bernada mundur.

“Metode konvensional asal rekat ini memicu pertanyaan besar dari warga dan pengamat kebijakan publik mengenai fungsi tenaga operasional dan pengawasan dinas terkait di lapangan. Tanpa pengawasan ketat, proyek infrastruktur alih-alih menyelesaikan masalah genangan, justru berpotensi menjadi proyek mubazir yang rusak sebelum waktunya dan merugikan masyarakat sekitar,” tuturnya.

Ia menambahkan, proyek saluran air Balongsari patut dipertanyakan, Diduga Asal Jadi, pasangan semen gantikan Struktur Standar. Sambungan antar paving yang tidak monolit (menyatu) seperti beton cor membuat air mudah merembes ke balik dinding, memicu erosi tanah di bawah jalan, dan mempercepat amblesnya akses warga sekitar.

Penggunaan material bekas atau material non-peruntukan seperti ini mengindikasikan adanya indikasi pengurangan spesifikasi demi menekan biaya produksi secara sepihak.

“Saluran air di kawasan perkotaan padat seperti Surabaya seharusnya mengedepankan aspek ketahanan banjir jangka panjang. Jika dinding saluran hanya mengandalkan tumpukan paving yang diplester semen, ini bukan membangun, tapi sekadar menambal demi formalitas,” terangnya.

Papan nama dan proyek pekerjaan

Warga berharap adanya evaluasi dan pembongkaran ulang sebelum proyek diserahterimakan, agar uang rakyat tidak terbuang sia-sia untuk infrastruktur yang ringkih.

Temuan di Jalan Balong Sari Praja IV ini menjadi rapor merah bagi fungsi tenaga operasional dan pengawasan dinas terkait. Penggunaan paving sebagai dinding saluran terindikasi kuat sebagai bentuk pemotongan anggaran ilegal oleh oknum Pokmas demi meraup keuntungan pribadi.

“Keterlambatan atau kelalaian dalam pemasangan U-ditch di titik ini menimbulkan pertanyaan kritis mengenai pengawasan tenaga operasional proyek infrastruktur di tingkat kelurahan dan kecamatan,” imbuhnya.

Sementara itu, pengerjaan saluran air di kawasan pemukiman warga menuai kritik tajam akibat dinilai serampangan dan mengabaikan keselamatan publik. Berdasarkan pantauan di lapangan, proyek pemasangan beton drainase (U-ditch) tersebut tampak belum tuntas dan terkesan dibiarkan terbengkalai.

Kondisi paling memprihatinkan terlihat tepat di depan salah satu pintu gerbang rumah warga. Di lokasi tersebut, pemasangan beton U-ditch justru terputus dan sebagian dibiarkan terbuka tanpa penutup. Hal ini memicu protes keras dari pemilik rumah yang merasa akses keluar-masuk kediamannya terganggu dan membahayakan.

“Kami sangat kecewa dengan pengerjaan proyek ini. Selain tidak tuntas, bagian depan gerbang kami malah dilewati begitu saja tanpa dipasang U-ditch yang layak. Ini sangat mengganggu aktivitas sehari-hari,” ujar pemilik rumah dengan nada kesal.

Bukan hanya masalah estetika dan akses, proyek ini juga dituding mengabaikan standar keselamatan kerja (K3). Di sekitar galian yang menganga, sama sekali tidak ditemukan adanya papan peringatan, garis polisi (safety line), maupun lampu penanda proyek.

Warga setempat mengkhawatirkan kondisi ini dapat memicu kecelakaan fatal, terutama saat malam hari karena minimnya penerangan. Lubang saluran yang terbuka tanpa pembatas tersebut dinilai menjadi ancaman nyata bagi keselamatan anak-anak dan kelompok lanjut usia (lansia) yang kerap melintas di area tersebut. Warga mendesak pihak kontraktor dan dinas terkait untuk segera merampungkan proyek dan memasang rambu keselamatan sebelum menelan korban jiwa.

“Selain risiko terjatuh, rongga kosong di bawah semen pemisah tersebut rawan ambles jika dipaksa menahan beban kendaraan. Warga meminta agar pemasangan U-ditch segera dituntaskan tanpa menunda-nunda, demi mengembalikan hak mobilitas warga secara aman dan nyaman,” katanya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Kelurahan Balongsari maupun tenaga operasional pokmas proyek belum memberikan keterangan resmi terkait alasan teknis di balik penggunaan metode pasangan paving semen tersebut.

Exit mobile version