BANGKALAN – Hamparan lahan pertanian di Desa Tanah Merah Dajah, Kecamatan Tanah Merah, Kabupaten Bangkalan, kini mulai menunjukkan hasil dari kerja keras para petani. Memanfaatkan lahan persawahan yang ditanami berbagai jenis tanaman hortikultura, masyarakat melalui kelompok tani berhasil menghasilkan sejumlah komoditas pertanian, mulai dari semangka, mentimun hingga jagung.
Panen raya tersebut menjadi angin segar bagi para petani sekaligus membuka peluang pemasaran hasil pertanian secara langsung. Salah satunya terlihat dari keterlibatan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pangpong dan SPPG Mrecah yang membeli hasil panen semangka dari petani Desa Tanah Merah Dajah.
Kedua SPPG tersebut bahkan tidak hanya membeli hasil panen dari lokasi, tetapi turun langsung ke lahan persawahan untuk memilih dan memetik semangka yang siap dipanen. Langkah tersebut dinilai memberikan keuntungan tersendiri bagi petani karena hasil pertanian dapat terserap langsung tanpa harus melalui rantai distribusi yang panjang.
Kepala Desa Tanah Merah Dajah, Bustanul Arifin, mengatakan bahwa lahan pertanian yang dikembangkan masyarakat tersebut memiliki luas sekitar 5 hektare. Lahan itu ditanami sejumlah komoditas pertanian yang diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat desa.
“Dari 5 hektare lahan sawah yang ditanami buah-buahan, di antaranya semangka, timun dan jagung. Saat ini tanaman tersebut sudah tumbuh hingga membuahkan hasil yang dikelola oleh Gapoktan Sahabat Tani 1 hingga 6,” ujar Bustanul Arifin.
Menurutnya, keberhasilan panen tersebut tidak lepas dari semangat kelompok tani dalam mengoptimalkan lahan yang ada. Dengan pengelolaan yang dilakukan secara bersama melalui kelompok tani, lahan persawahan tidak hanya menghasilkan tanaman pangan, tetapi juga komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi.
Momen panen semakin menarik ketika SPPG Pangpong yang dinahkodai Kepala Desa Pangpong dan SPPG Mrecah yang dinahkodai Kepala Desa Mrecah ikut menyerap hasil panen semangka tersebut.
Keduanya memilih membeli semangka langsung dari lahan pertanian Desa Tanah Merah Dajah. Bahkan, proses pembelian dilakukan dengan cara memetik langsung buah semangka yang telah siap dipanen.
Harga yang ditawarkan juga dinilai cukup terjangkau, yakni sekitar Rp8.000 per kilogram. Dengan adanya pembelian secara langsung tersebut, petani mendapatkan akses pasar yang lebih dekat, sementara pihak SPPG dapat memperoleh bahan pangan dari hasil pertanian lokal.
Bagi para petani, terserapnya hasil panen secara langsung tentu menjadi kabar menggembirakan. Selain membantu meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian, pola pembelian langsung dari lahan juga diharapkan dapat memperpendek mata rantai distribusi sehingga hubungan antara petani dan pembeli menjadi lebih dekat.
Bustanul Arifin berharap kerja sama dan penyerapan hasil pertanian lokal tersebut dapat terus berlanjut. Menurutnya, keberadaan SPPG yang membeli hasil pertanian masyarakat dapat menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap petani lokal.
Ia juga berharap komoditas pertanian yang dihasilkan dari Desa Tanah Merah Dajah ke depan semakin berkembang, sehingga masyarakat tidak hanya menjadi produsen, tetapi juga memiliki pasar yang jelas untuk menjual hasil panennya.
“Harapannya hasil pertanian masyarakat ini bisa terus terserap. Dengan begitu, para petani semakin semangat mengembangkan lahan pertanian dan perekonomian masyarakat desa juga ikut meningkat,” harapnya.
Panen raya semangka di Desa Tanah Merah Dajah tersebut menjadi gambaran bahwa sektor pertanian lokal memiliki potensi besar apabila didukung dengan pengelolaan yang baik serta akses pemasaran yang memadai.
Di tengah upaya meningkatkan ketahanan pangan dan pemenuhan kebutuhan bahan pangan, keterlibatan SPPG Pangpong dan SPPG Mrecah dalam menyerap hasil panen petani lokal menjadi langkah positif. Dari lahan desa, hasil panen kemudian dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Dengan semangka dipetik langsung dari sawah dan dibeli dengan harga yang relatif terjangkau, panen raya kali ini bukan sekadar aktivitas pertanian, tetapi juga menjadi momentum mempertemukan hasil kerja petani dengan kebutuhan pangan masyarakat secara langsung.
