banner 728x250

Dugaan Kejar Tayang Proyek U-Ditch Tambak Mayor: Saat Nyawa Pekerja Terkubur di Bawah Beton Demi Cuan dan Target, DSDABM Surabaya Kecolongan!

Pekerja Dipaksa Menyelam di air comberan Proyek U-Ditch Tambak Mayor DSDABM Surabaya Kecolongan!
Pekerja Dipaksa Menyelam di air comberan Proyek U-Ditch Tambak Mayor DSDABM Surabaya Kecolongan!
banner 120x600

SURABAYA – Proyek Pembangunan Saluran U-Ditch 120/150 dengan Cover Gandar 10 ton di Jalan Tambak Mayor bernilai fantastis, Rp 6.708.086.632, yang didanai oleh APBD Kota Surabaya 2026 ini, diduga kuat telah berubah menjadi ladang eksploitasi manusia. Di bawah bendera kontraktor Berlian Karya Teknik, keselamatan kerja (K3) tampaknya berstatus “opsional” demi mengejar target progress fisik dan efisiensi keuntungan keuangan.

Berdasarkan investigasi di lapangan, proyek senilai Miliaran ini dinilai acuh tak acuh terhadap dampak sosial dan lingkungan sekitar. Di bawah temaram lampu proyek, sebuah drama kemanusiaan yang memilukan sekaligus memuakkan sedang berlangsung. Foto di atas menjadi bukti otentik bagaimana para buruh kasar dipaksa bertaruh nyawa menyelam di dalam air lubang galian yang rentan longsor, tepat di bawah gelantungan beton U-ditch raksasa seberat ratusan kilogram yang sedang diturunkan oleh alat berat.

banner 325x300

Mandulnya konsultan pengawas dan pengawasan Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) menjadi tanda tanya(?) Proyek pengadaan melalui E-Purchasing (E-Katalog Versi 6.0) berkode 01KS49PJ4QAMX58PHN3WXY64TW ini seharusnya tunduk pada aturan ketat. Namun, realitas di lapangan berbicara lain. Keberadaan dua pekerja yang berada tepat di area jatuhnya material berat tanpa perlindungan dinding penahan yang memadai adalah pelanggaran K3 tingkat tinggi.

Di mana pengawas lapangan? Di mana fungsi kontrol dari Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya dengan kode instansi 1.03.0.00.0.00.01.0000? Sikap diamnya para pengawas di lokasi memicu dugaan miring: mereka sengaja tutup mata dan hati. Fungsi pengawasan DSDABM dinilai mandul dan mandeg. Mereka seolah melegalkan pemandangan berbahaya ini asalkan status proyek tetap bergerak menuju “ON PROCESS” tanpa peduli ada darah atau keringat berlebih yang dikorbankan.

Keuntungan Kontraktor vs Nyawa Buruh. Uang rakyat senilai Rp 6,7 Miliar yang dianggarkan penuh seharusnya mampu membiayai metode kerja yang aman, modern, dan manusiawi. Namun, demi meraup margin keuntungan yang lebih tebal dan menghindari denda keterlambatan target pemkot, keselamatan pekerja justru digadaikan. Pekerja dipaksa masuk ke zona bahaya maut demi mempercepat pemasangan beton.

Jika kecelakaan kerja sampai terjadi dan merenggut nyawa, siapakah yang akan bertanggung jawab? Apakah kontraktor hanya akan melemparkan uang santunan seadanya lalu melanjutkan pengerukan cuan mereka? Warga Surabaya berhak menuntut transparansi. Proyek infrastruktur kota tidak boleh dibangun di atas rasa ketakutan para pekerjanya.

Jeritan Warga (Pengendara) di Tambak Mayor mengatakan, macet total dan debu pekat, penutupan dan penyempitan jalan yang tidak dibarengi dengan manajemen lalu lintas yang baik.

“Sudah Macet Parah, Nyawa Pekerjanya Juga Dipertaruhkan!,” kata warga (pengendara) minta namanya tidak disebutkan.

Menurutnya, Pengerjaan di malam hari ini pun penataan materialnya berantakan. Belum lagi jalanan licin berlumpur saat sisa galian kena air. Ini sangat membahayakan pengendara motor, pengendara juga menyoroti minimnya lampu penanda visual (rotary lamp) dan barikade yang kokoh di sekitar lubang galian yang menganga. Hal ini sangat rawan memicu kecelakaan fatal bagi pengendara yang kurang waspada di malam hari. warga sekitar yang menyaksikan langsung proses penurunan beton U-ditch raksasa mengaku ngeri dan merinding melihat metode kerja yang diterapkan pihak kontraktor.

“Kami yang melihat saja gemetar. Itu beton besar digantung pakai alat berat, lalu di bawahnya ada dua orang pekerja yang cuma pakai helm kuning tanpa pengaman tambahan di lubang sempit. Kalau tali bajanya putus atau tanahnya ambrol, selesai sudah nasib mereka. Apa kontraktornya tidak punya hati?” ketusnya.

Warga menilai, ambisi kontraktor mengejar target penyelesaian fisik agar dana APBD Kota Surabaya segera cair telah membutakan mata kemanusiaan mereka. Ironisnya, DSDABM Kota Surabaya sebagai pemilik proyek seolah membiarkan pemandangan mengerikan ini menjadi tontonan harian warga.

Masyarakat Tambak Mayor kini mendesak Pemerintah Kota Surabaya melalui DSDABM untuk evaluasi kontraktor pelaksana sebelum Jalan Tambak Mayor memakan korban jiwa akibat kelalaian yang disengaja ini, janga hanya fokus pada progress persentase proyek di E-Katalog, melainkan juga turun ke lapangan melakukan audit K3 secara menyeluruh. Warga menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur kota yang bersumber dari uang rakyat tidak boleh menyengsarakan masyarakat sekitar dan mengorbankan nyawa para pekerja kecil di dasar galian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You cannot copy content of this page