banner 728x250

Jaga Kerukunan dan Warisan Leluhur, Pemdes Sidokepung Rutin Gelar Tasyakuran Malam Jumat Legi

Jaga Kerukunan dan Warisan Leluhur, Pemdes Sidokepung Rutin Gelar Tasyakuran Malam Jumat Legi
Jaga Kerukunan dan Warisan Leluhur, Pemdes Sidokepung Rutin Gelar Tasyakuran Malam Jumat Legi
banner 120x600

 

SIDOARJO – Pemerintah Desa (Pemdes) Sidokepung, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo, terus menunjukkan komitmennya dalam melestarikan tradisi leluhur. Salah satunya melalui kegiatan tasyakuran dan tumpengan yang rutin digelar setiap malam Jumat Legi. Selain sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT atas limpahan berkah, keselamatan, dan ketenteraman, tradisi ini juga menjadi sarana efektif mempererat silaturahmi serta menjaga kerukunan warga.

banner 325x300

Tradisi yang sarat nilai spiritual dan budaya tersebut dilaksanakan di Pendopo Agung Makam Mbah Sapu Jagad, Desa Sidokepung, Kamis (15/10/2026). Acara dipimpin langsung oleh Kepala Desa Sidokepung, Arintono, bersama juru kunci makam, Choirul Anam, serta dihadiri perangkat desa dan warga setempat.

Suasana kebersamaan begitu terasa sepanjang pelaksanaan acara. Melalui doa bersama dan penyajian tumpeng, warga memanjatkan harapan agar senantiasa diberikan kesehatan, keselamatan, rezeki yang halal dan barokah, serta kehidupan desa yang tenteram, damai, dan harmonis.

Bagi masyarakat Sidokepung, tasyakuran ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bagian dari upaya merawat warisan budaya peninggalan pendahulu agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi penerus.

Kepala Desa Sidokepung, Arintono, menyampaikan bahwa tasyakuran malam Jumat Legi merupakan bentuk ungkapan rasa syukur sekaligus bagian dari adat kebiasaan setempat yang sudah dijalankan secara turun-temurun.

“Melalui tasyakuran ini, kami memanjatkan rasa syukur kepada Allah SWT atas segala berkah yang diberikan. Kami juga berdoa agar masyarakat Sidokepung senantiasa diberikan keselamatan, kesehatan, rezeki yang halal dan barokah, serta kehidupan yang adem ayem, tenteram, dan rukun,” ungkap Arintono.

Arintono menegaskan bahwa pelestarian budaya lokal merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat, bukan hanya pemerintah desa. Dengan menjaga tradisi leluhur—termasuk tradisi yang berkaitan dengan peninggalan Mbah Sapu Jagad—masarakat diharapkan tetap memiliki ikatan emosional dan historis yang kuat dengan desanya.

Ia menambahkan, tumpeng yang disajikan memiliki makna simbolis sebagai wujud syukur, sedangkan kehadiran warga mencerminkan semangat gotong royong dan persatuan.

Lebih lanjut, Arintono menilai bahwa kemajuan suatu desa tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik atau layanan administrasi semata, melainkan juga oleh kuatnya hubungan sosial, transparansi, dan partisipasi aktif masyarakat.

“Harapan kami, silaturahmi antarwarga semakin erat, masyarakat semakin rukun, dan hubungan antara pemerintah desa dengan warga semakin harmonis. Pemerintah desa tidak bisa berjalan sendiri. Sinergi dengan masyarakat sangat penting agar pembangunan dapat berjalan dengan baik dan hasilnya dirasakan bersama,” tegasnya.

Konsistensi Pemdes Sidokepung bersama warga dan juru kunci makam dalam menggelar tradisi ini membuktikan bahwa nilai-nilai religius, gotong royong, dan penghormatan terhadap sejarah tetap mengakar kuat.

Di tengah era modernisasi, keberlanjutan tradisi malam Jumat Legi di Makam Mbah Sapu Jagad ini menjadi ruang krusial untuk mengedukasi generasi muda, merawat identitas budaya, serta membangun Desa Sidokepung yang semakin guyub, rukun, dan penuh keberkahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You cannot copy content of this page